JAKARTA - Kesinambungan kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) diprediksi akan tetap terjaga stabil lantaran keputusan bank sentral bersifat kelembagaan, menyusul pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur BI.
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa BI mengandalkan mekanisme Rapat Dewan Gubernur (RDG) sebagai forum tertinggi perumusan kebijakan yang ditempuh melalui musyawarah bersama.
“Dengan demikian, kebijakan suku bunga, pengelolaan likuiditas, intervensi nilai tukar, dan pengaturan sistem pembayaran merupakan keputusan kelembagaan yang dilaksanakan bersama, bukan keputusan pribadi Gubernur,” kata Josua dalam jawaban tertulis di Jakarta, Senin.
1. Mekanisme Peralihan dan Kesiapan Pimpinan Transisi
Secara regulasi, mekanisme peralihan kepemimpinan di tubuh bank sentral tergolong sangat transparan. Saat posisi Gubernur kosong sebelum pejabat definitif diangkat, Deputi Gubernur Senior secara otomatis mengemban tugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara.
Melalui forum RDG pada Minggu (26/7), Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, ditunjuk menjadi Pejabat Gubernur Sementara BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo secara sukarela diumumkan pada Sabtu (25/7).
Josua menilai Destry memiliki latar belakang yang sangat matang untuk memimpin transisi. Pengalamannya mencakup berbagai sektor strategis seperti Citibank Indonesia, Mandiri Sekuritas, Bank Mandiri, Kementerian BUMN, hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
“Rekam jejak itu menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap perilaku pelaku pasar, pergerakan modal, perbankan, surat berharga, dan pembentukan harapan investor. Fokusnya di BI juga mencakup pengembangan pasar uang dan valuta asing serta stabilitas nilai tukar rupiah. Karena itu, cara BI membaca pasar dan mengelola rupiah kemungkinan tidak akan berubah secara mendadak,” kata Josua.
2. Perangkat Kebijakan dan Poin Penting Pengawasan Pasar
Kesinambungan moneter ini didukung oleh perangkat kebijakan yang sudah berjalan solid. Pada Juli 2026, RDG mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen serta terus memperkuat stabilitas rupiah dan likuiditas perbankan.
“Seluruh perangkat tersebut sudah melekat pada kerangka kelembagaan dan dapat tetap dijalankan di bawah Destry,” kata Josua.
Kendati demikian, Josua mengingatkan agar BI tidak mengabaikan potensi risiko selama masa transisi. Pasar dipastikan bakal mencermati konsistensi komunikasi BI, ketegasan dalam menjaga independensi lembaga, serta kepastian proses pemilihan Gubernur definitif.
Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan kepastian bahwa proses penunjukan pimpinan baru tidak diintervensi untuk mengarahkan kebijakan moneter tertentu.