JAKARTA - Pengelola ratusan gerai Starbucks di Indonesia, PT Map Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) mencatatkan lonjakan rugi hingga mencapai Rp121,50 miliar sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, MAPB sebenarnya berhasil membukukan pendapatan yang tumbuh sebesar 9,88 persen YoY menjadi Rp1,67 triliun per Juni 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan perolehan Rp1,52 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Penjualan dari seluruh lini bisnis MAPB tercatat masih mengalami pertumbuhan. Lini minuman menyumbang kontribusi terbesar yakni Rp934,48 miliar, disusul lini makanan sebesar Rp644,88 miliar, serta segmen lain-lain yang berkontribusi Rp97,50 miliar.
Seiring dengan meningkatnya performa penjualan, beban pokok penjualan MAPB juga mengalami kenaikan menjadi Rp537,40 miliar per Juni 2026. Realisasi ini naik dari posisi Rp463,83 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Kondisi ini membuat laba kotor perseroan tercatat sebesar Rp1,13 triliun pada semester pertama 2026. Capaian tersebut masih menunjukkan pertumbuhan jika dibandingkan dengan perolehan Rp1,05 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Kendati demikian, tingginya lonjakan sejumlah beban usaha serta tekanan kerugian akibat melemahnya nilai tukar rupiah membuat perseroan kembali menanggung rugi.
Bahkan, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih MAPB membengkak menjadi Rp121,50 miliar. Angka kerugian ini melonjak signifikan dari Rp80,20 miliar pada periode yang sama tahun 2025.
Ditinjau dari posisi neraca keuangan, total aset MAPB mengalami penyusutan dari posisi Rp2,81 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp2,62 triliun per Juni 2026.
Meskipun begitu, total liabilitas perseroan berhasil terpangkas menjadi Rp1,34 triliun per Juni 2026, turun dari posisi Rp1,41 triliun pada Desember 2025. Di sisi lain, nilai ekuitas perseroan turut mengalami penurunan menjadi Rp1,27 triliun pada Juni 2026.