Riset: Pangkas Porsi Makan Protein Bikin Awet Muda dan Sehat

Selasa, 04 Agustus 2026 | 02:43:01 WIB
Kurangi Asupan Protein Ternyata Sanggup Memperlambat Penuaan Tubuh [FOTO: NET].

JAKARTA - Tinjauan terbaru yang mengulas lebih dari 350 riset mengenai pemangkasan protein dan penuaan menyingkap temuan yang lumayan mengejutkan.

Studi mengungkapkan, memotong porsi masakan berprotein justru sanggup memperlambat proses penuaan serta membantu banyak individu untuk berumur lebih panjang.

Riset yang dipublikasikan pada Jumat (31/7/2026) di jurnal Cell Press Blue ini membedah bagaimana dampak pemotongan protein memengaruhi proses penuaan fisik.

Para peneliti menyimpulkan, pemangkasan asupan protein terbukti sanggup membenahi sistem metabolisme, mengubah pola sel merespons nutrisi, membatasi kerusakan pada tingkatan seluler, dan membantu sel menjaga fungsi normal harian.

"Sangat jelas bahwa ada manfaat protein untuk pertumbuhan otot dan respons olahraga bagi individu yang aktif," ujar Penulis Koresponden Studi dari University of Wisconsin-Madison, Dudley Lamming, Selasa (4/8/2026).

"Tapi, karena kebanyakan orang cenderung malas bergerak, banyak dari kami yang mungkin mengonsumsi protein melebihi kebutuhan sebenarnya, dan ini berpotensi membawa dampak buruk bagi kesehatan," lanjut dia.

Membatasi asupan protein bikin lebih awet muda

Menjadi alternatif diet yang anti-menyiksa

Memangkas porsi kalori sanggup memperpanjang umur pada banyak organisme, sekaligus menekan risiko beragam penyakit akibat usia seperti kanker.

Kendati demikian, mengadopsi pola makan rendah kalori dalam kurun waktu lama terhitung sangat menyiksa serta teramat berat dipertahankan oleh mayoritas individu.

Membatasi konsumsi protein lantas mampu dijadikan alternatif untuk dipertimbangkan.

Studi terdahulu membuktikan, lalat dan hewan pengerat sanggup berumur kian panjang sewaktu porsi protein mereka dipangkas, kendati total asupan kalori harian mereka tidak menanggung penurunan sama sekali.

Uji klinis teranyar pada manusia turut menyajikan hasil menjanjikan. Mereka yang disiplin menurunkan asupan protein terbukti sukses memangkas bobot tubuh dan kadar lemak tubuh.

Di samping itu, kadar gula darah puasa mereka ikut membaik, biarpun secara keseluruhan mereka justru menyantap lebih banyak kalori.

Tren protein tinggi belum tentu pas untuk semua

Meskipun begitu, bukti ilmiah ini tidak cuma datang dari satu sudut pandang. Penelitian lain tetap menunjukkan bahwa asupan protein yang lebih melimpah mampu menyokong penurunan berat badan serta menjaga massa otot pada lansia, utamanya bila disandingkan dengan rutinitas berolahraga.

Ilustrasi daging ayam yang dimarinasi. Protein penting bagi tubuh, tetapi ahli mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan, terutama dari sumber hewani, dapat berdampak pada proses penuaan dan kesehatan jangka panjang.(FREEPIK/azerbaijan_stockers)

Capaian inilah yang mendasari pembaruan pedoman diet di Amerika Serikat tahun ini. Patokan baru ini secara tegas mengimbau konsumsi protein harian berkisar 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan, angka yang hampir dua kali lipat lebih tinggi dari patokan sebelumnya.

Seiring melonjaknya konsumsi protein pada masyarakat, Lamming beserta timnya menelaah rekam jejak riset puluhan tahun demi lebih memahami keterkaitan antara protein, metabolisme, dan penuaan.

Hasilnya, asupan protein yang lebih rendah terbukti konsisten terikat erat dengan fungsi metabolisme yang jauh lebih optimal, sinyal nutrisi yang berubah, hingga pemeliharaan sel sehat yang membaik.

Lonjakan hormon yang menyehatkan metabolisme

Pembenahan metabolisme ini dipengaruhi oleh hormon pengatur krusial bernama fibroblast growth factor 21 (FGF21).

Kadar FGF21 melonjak drastis sewaktu asupan proteinmu menurun tajam. Hormon ini mengemban tugas membakar pengeluaran energi, menstabilkan regulasi gula darah, serta meredakan pelbagai peradangan.

Studi ini turut menyoroti peran tiga jenis asam amino penyusun protein, yaitu methionine, isoleucine, dan valine yang rupanya memegang peranan penting.

Riset memperlihatkan, menyantap terlalu banyak asam amino ini berisiko memicu aktifnya jalur biologis yang menyulut pertumbuhan berlebih. Bila dibiarkan terus aktif, kondisi ini sanggup memacu risiko obesitas, peradangan, dan bermacam gangguan terkait penuaan.

"Studi-studi ini menunjukkan bahwa jumlah protein yang dimakan orang-orang yang kurang gerak saat ini mungkin memiliki konsekuensi kesehatan yang negatif, setidaknya pada tingkat populasi," jelas Lamming.

Tetap sesuaikan porsi dengan gaya hidup harian

Kebutuhan nutrisi tiap individu sudah pasti berbeda-beda. Ibu hamil beserta kelompok lansia tertentu, contohnya, terang mengantongi kebutuhan gizi yang jauh kian tinggi.

Namun demikian, bagi banyak orang dewasa yang lebih rutin duduk diam, produk fortifikasi protein boleh jadi tidak menyajikan faedah kesehatan seperti yang digadang-gadang selama ini.

Sebagai pembanding, atlet kerap menyantap banyak protein tanpa terkena penyakit metabolik sama sekali.

Lamming menduga kuat bahwasanya aktivitas fisik yang intens sanggup menyumbang perlindungan khusus lewat pengalihan tumpukan protein tersebut demi membangun serta merawat otot yang sehat.

"Rekomendasi terbaru telah mendorong orang untuk makan lebih banyak protein, tetapi mereka juga mendorong orang untuk lebih banyak berolahraga," tutur dia.

"Kami mungkin perlu mempersonalisasi rekomendasi protein tidak hanya berdasarkan usia, tetapi juga seberapa aktif orang tersebut secara fisik," sambung Lamming.

Terkini