Pembiayaan EV Sumbang hingga 20 Persen Portofolio dari BCA Finance

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:12:21 WIB
Karyawan melayani nasabah di salah satu kantor cabang BCA Finance di Jakarta.

JAKARTA - Penyaluran kredit kendaraan bermotor listrik atau electric vehicle (EV) dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melalui anak usahanya, BCA Finance, mencatatkan porsi 15 persen hingga 20 persen terhadap total portofolio perusahaan sepanjang tahun berjalan.

Presiden Direktur BCA Finance Petrus Santoso Karim menilai bahwa penetrasi dan adopsi kendaraan listrik di pasar domestik sedikit tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

“Contoh, kami sebut saja Thailand sudah lebih dulu, kami 1 tahun atau 1 tahun lebih lambat. Jadi, kalau di BCA, kami punya portofolio untuk mobil EV, itu sudah mendekati 15%—20% antara itu,” ucapnya dalam Konferensi Pers BCA Expo 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).

Menurut pandangannya, sektor otomotif nasional kini tengah berada pada fase peralihan dari kendaraan berbasis mesin pembakaran internal menuju varian hybrid, plug-in hybrid, hingga EV murni.

“Ini sedang ada terjadi pergeseran animo masyarakat atau jenis kendaraan yang ditawarkan oleh produsen otomotif, sehingga kami sama-sama akan menyaksikan satu perubahan gaya hidup untuk masyarakat Indonesia. Tentunya BCA sangat antusias, ya, kami sangat antusias untuk berperan serta dalam perubahan itu,” jelasnya.

Lebih detail, Petrus menerangkan bahwa porsi pembiayaan EV pada 2026 mengalami lonjakan signifikan jika dibandingkan dengan capaian 2025 yang saat itu hanya memberikan kontribusi sekitar 7 persen dari total portofolio.

Petrus sependapat dengan temuan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperlihatkan tren penurunan pembiayaan kendaraan konvensional di saat pembiayaan EV justru melejit. Fenomena ini dipicu oleh makin maraknya kehadiran para produsen kendaraan listrik di pasar tanah air.

Berdasarkan catatan OJK per Juni 2026, penyaluran pembiayaan EV oleh industri multifinance melonjak 34,70 persen (year on year/YoY) hingga menyentuh Rp24,60 triliun, sedangkan pembiayaan mobil konvensional baru dan bekas terkoreksi 3,25 persen (YoY) menjadi Rp230,47 triliun.

OJK berharap pemberian berbagai insentif dari pemerintah dapat mengerek permintaan publik sehingga memberi dampak positif bagi pembiayaan EV. Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman mendorong pelaku usaha multifinance untuk menyesuaikan strategi bisnisnya.

“Serta memperkuat penerapan manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan kendaraan listrik,” tuturnya dalam lembar jawaban RDK Juli 2026, dikutip pada Minggu (9/8/2026).

Terkini