Konsumsi Pertalite dan Solar Bersubsidi Membengkak Usai Pertamax Naik, BPH Migas Buka Suara

Kamis, 27 Agustus 2026 | 09:11:00 WIB

PORTALENERGI.ID — Jakarta — Efek domino kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai terlihat di lapangan. Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) mencatat adanya pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite yang cukup masif, seiring melonjaknya aktivitas logistik dan sektor produktif di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengungkapkan bahwa peningkatan konsumsi BBM bersubsidi ini tidak terlepas dari menggeliatnya kegiatan ekonomi. Hal ini disampaikannya dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI pada Rabu (26/8).

Penyaluran Pertalite Tembus 84.368 KL per Hari

Data BPH Migas menunjukkan rata-rata penyaluran Pertalite sebelum penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 berada di angka 75.795 kiloliter (KL) per hari. Angka ini langsung meroket 9,19 persen atau bertambah 6.965 KL per hari setelah kebijakan tersebut berlaku.

Lonjakan berlanjut pada periode 1-31 Juli 2026. Konsumsi Pertalite meningkat 12,92 persen dengan tambahan penyaluran sekitar 9.794 KL per hari, sehingga rata-rata penyaluran mencapai 84.368 KL per hari.

“Jadi artinya kenaikan konsumsi Pertalite ini memang shifting dari sisi pemindahan semula konsumsi Pertamax menjadi Pertalite,” ujar Wahyudi di hadapan anggota dewan.

Koreksi Harga Pertamax Mulai Tahan Laju Konsumsi

Memasuki Agustus 2026, laju kenaikan konsumsi Pertalite mulai sedikit melandai. Kondisi ini sejalan dengan adanya koreksi harga Pertamax dari Rp16.250 per liter menjadi Rp15.950 per liter. Ketika harga BBM nonsubsidi turun, sebagian konsumen mulai kembali beralih.

“Karena harga Pertamax juga ada terkoreksi semula 16.250 menjadi 15.950 mengalami penurunan sehingga konsumsinya untuk Pertamax juga turun,” jelas Wahyudi.

Solar Bersubsidi Ikut Tergerus, Naik 15 Persen

Di sisi lain, konsumsi solar bersubsidi juga menunjukkan tren peningkatan yang tak kalah signifikan. Sebelum penyesuaian harga solar nonsubsidi, rata-rata penyaluran berada di level 50.624 KL per hari. Kini, angka tersebut bertambah hingga mencapai rata-rata 58.271 KL per hari.

“Kenaikan menunjukkan kenaikan yang paling tinggi di bulan Agustus sebesar 15,10 persen. Ini khusus solar subsidi dan kami terus melakukan proses dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat secara baik karena faktor ekonomi juga terjadi indikasi peningkatan,” kata Wahyudi.

Logistik dan Sektor Produktif Jadi Pemicu Utama

Wahyudi menjelaskan, peningkatan kebutuhan BBM ini didorong oleh menggeliatnya sektor-sektor produktif. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sektor perdagangan tumbuh 6,39 persen secara year to date (YTD), akomodasi dan makan-minum tumbuh 10,60 persen YTD, serta sektor pertanian tumbuh 3,8 persen YTD.

Indikasi peningkatan terlihat jelas dari melonjaknya kebutuhan solar di sejumlah wilayah logistik utama. Beberapa di antaranya adalah Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, serta Medan, Palembang, Riau, Kalimantan, dan Makassar.

“Ini penting untuk dicermati karena di Triwulan 2 ini kegiatan logistik terus terjadi peningkatan, baik itu untuk ekspor maupun impor untuk didistribusikan kepada masyarakat di sekitar wilayah tersebut,” tandasnya.

Selain faktor ekonomi, implementasi sejumlah program strategis pemerintah pada 2026 turut mendongkrak distribusi BBM. Program-program tersebut antara lain Koperasi Nelayan Merah Putih, Brigadir Pangan, hingga UTSD yang berjalan di berbagai daerah.

Terkini