Perhatikan 5 Tanda Perkembangan Empati Anak dan Cara Memahaminya

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:55:01 WIB
Ilustrasi Anak - Anak.

JAKARTA — Anak yang beranjak makin besar umumnya mengalami beraneka perubahan dalam cara menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Ia tak lagi melulu berfokus pada kehendak pribadi, melainkan perlahan mulai menaruh perhatian pada kondisi orang lain.

Kecakapan memahami serta merespons situasi orang lain ini erat kaitannya dengan fase pertumbuhan empati yang berproses secara bertahap sejak masa kanak-kanak.

Seiring bertambahnya usia, anak perlahan mengasah kemampuannya mengenali emosi orang lain, menyadari bahwa tiap individu sanggup merasakan hal yang berbeda, hingga menjawab rasa tersebut lewat tindakan nyata.

Lantas, seperti apa saja indikasi yang menandai anak mulai mengasah empati?

Mulai sadar ketika orang lain sedang sedih Menyadur laporan yang dipublikasikan dalam Nature, salah satu penanda yang gampang diamati yakni sewaktu anak mulai mencermati pergeseran emosi orang lain. Sebagai contoh, anak memperhatikan rekannya menangis lalu tersadar bahwa temannya sedang didera kesedihan.

Ia mungkin belum memahami tindakan apa yang mesti diambil, namun sudah mulai memperlihatkan kepedulian atau menanyakan kondisi temannya.

Kecakapan mengidentifikasi serta merespons emosi orang lain tecermin sebagai bagian vital dalam pertumbuhan empati sejak usia belia.

Berusaha menghibur orang yang sedang sedih Anak yang mulai memupuk rasa empati tak cuma sekadar sadar saat orang lain tengah berduka, melainkan juga berikhtiar membuat orang tersebut merasa lebih tenang.

Bentuk kepedulian tersebut tak selalu diwujudkan lewat tutur kata. Anak sanggup memberikan pelukan hangat, mengambilkan barang, menawarkan mainan kesayangan, atau sekadar duduk mendampingi di samping orang yang sedang menangis.

Tindakan menolong serta menghibur tergolong sebagai wujud perilaku prososial yang berkaitan erat dengan pematangan kemampuan memahami kondisi emosional orang lain.

Mulai mau berbagi tanpa selalu diminta Anak yang mulai berlapang dada memberikan sebagian barang miliknya kepada orang lain juga menandakan adanya kemajuan dalam kecakapan sosial serta empatinya.

Mengutip riset dalam jurnal Developmental Psychology, kejelian anak dalam memahami pikiran, keinginan, serta kondisi mental orang lain berbanding lurus dengan timbulnya aksi seperti membantu, bekerja sama, berbagi, dan menghibur.

Mulai memahami sudut pandang orang lain Anak juga perlahan menyadari bahwa orang lain sanggup memiliki pemikiran, perasaan, maupun keinginan yang berseberangan darinya. Contohnya, anak mulai mengerti bahwa hal yang menurutnya mengasyikkan belum tentu mendatangkan kegembiraan bagi temannya. Ia juga mulai bisa meninjau suatu persoalan dari kacamata orang lain.

Kemampuan memandang sebuah situasi dari sudut pandang orang lain atau perspective-taking tecermin sebagai fondasi penting dalam pertumbuhan empati.

Pada tahap ini, anak mungkin tak selalu berhasil menerka perasaan orang lain secara akurat. Kendati demikian, ikhtiar untuk menimbang sudut pandang tersebut sudah menjadi bagian utuh dari alur perkembangan empatinya.

Mulai peduli ketika melihat orang lain diperlakukan tidak baik Empati dapat pula mencetus saat anak menyaksikan orang lain didera kesulitan atau diperlakukan secara tidak adil. Anak bakal membela temannya yang diolok-olok, merasa tak nyaman kala melihat seseorang disakiti, atau mencoba mendekati rekan yang sedang menyendiri.

Kecakapan mencerna sudut pandang orang lain sanggup membantu anak mengendus situasi tidak menyenangkan yang dialami seseorang sekaligus memicu hadirnya respons prososial.

Empati bukanlah sebuah kecakapan yang mendadak muncul secara instan pada satu tingkatan usia tertentu. Anak belajar meraba emosi, mencerna perspektif orang lain, serta meresponsnya lewat proses yang gradual.

Oleh karena itu, para orang tua tak perlu mendadak cemas bilamana buah hati belum memperlihatkan seluruh indikator tersebut.

Tingkat kedewasaan empati juga sanggup bervariasi seturut usia, karakter bawaan, serta pengalaman interaksi sosial masing-masing anak.

Studi yang terbit dalam jurnal Psychology in the Schools turut menandaskan bahwa empati tecermin sebagai kemampuan kompleks yang mesti dinilai dari bermacam sudut pandang, bukan sebatas ditakar dari satu perilaku tunggal semata.

Hal ini menandakan bahwa anak yang belum selalu bersedia berbagi atau belum paham cara menghibur rekannya bukan berarti tak mengantongi rasa empati. Boleh jadi ia masih dalam taraf mempelajari emosi serta cara pandang orang lain.

Terkini