Kenali 4 Penyebab Sering Merasa Bersalah Padahal Tidak Salah

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:57:32 WIB
Ilustrasi Bersalah.

JAKARTA — Munculnya rasa bersalah usai melakukan kekeliruan merupakan respons emosional yang wajar. Perasaan tersebut berperan membantu seseorang menyadari kesalahannya, memohon maaf, hingga memperbaiki jalinan hubungan sosial dengan orang lain.

Kendati demikian, emosi ini terkadang muncul padahal seseorang tidak melakukan kesalahan apa pun. Kondisi ini sering terlihat saat seseorang merasa bersalah karena menolak permintaan, menetapkan batasan pribadi, mengambil waktu luang, atau bahkan ketika memperoleh keberhasilan.

Psikolog Debra M. Kawahara, Ph.D., menjelaskan bahwa emosi bersalah terbagi menjadi karakter adaptif serta berlebihan. Sifat adaptif hadir tatkala seseorang menyadari telah melanggar nilai pribadi, menyakiti sesama, atau bertindak di luar cerminan diri yang diinginkan.

“Rasa bersalah seharusnya menjadi panduan, bukan beban emosional,” kata Kawahara.

Sebaliknya, rasa bersalah berlebihan akan meletup saat seseorang memikul beban atas situasi di luar kendali fisiknya atau menetapkan tolok ukur yang mustahil untuk digapai.

Mengutip pemikiran psikiater Jennifer Reid, Kawahara membeberkan empat pendorong timbulnya emosi bersalah yang berlebihan. Faktor pertama yakni dorongan perfeksionisme yang menciptakan tenggat target dinamis sehingga pemenuhannya tidak pernah benar-benar dapat diraih.

Pemicu kedua berasal dari kebiasaan memprioritaskan penerimaan orang lain dibanding kebutuhan diri. Hal ini membuat dorongan berkata "tidak" selalu diiringi penyesalan emosional.

Penyebab ketiga adalah sikap merasa bertanggung jawab penuh atas perasaan maupun kesejahteraan orang lain, sedangkan pemicu keempat timbul dari keyakinan keliru bahwa segala konflik serta kegagalan dapat dicegah melalui perencanaan yang matang.

Kawahara menekankan bahwa solusinya bukan menghapus rasa bersalah secara total, melainkan memilah mana yang bersifat membangun dan mana yang destruktif.

“Tujuannya bukan menghilangkan rasa bersalah sepenuhnya. Tujuannya adalah memberi ruang bagi rasa bersalah yang membimbing kami, sembari melepaskan rasa bersalah yang hanya membebani,” jelas Kawahara.

Langkah pemisahan ini dapat diawali dengan menguji apakah emosi tersebut hadir dari pelanggaran nilai moral atau sekadar akibat kegagalan dalam memenuhi ekspektasi yang tidak realistis.

Terkini