PORTALENERGI.ID — MSI Claw 8 EX AI+ bukan sekadar genggam gaming biasa. Ini perangkat pertama di pasaran yang mengusung chipset Intel Arc G3 Extreme, memadukan prosesor 12-core dengan GPU Arc B390 serta RAM LPDDR5X 32GB. Dirilis pada 23 Juni 2026, konsol ini menembus angka performa yang sebelumnya mustahil untuk perangkat seukuran genggam.
Desain: Berat, Tapi Nyaman
Bobotnya tercatat 786 gram—genggam terberat yang pernah kami uji. Namun, distribusi berat yang merata berkat grip lebar membuatnya tetap nyaman digenggam dalam sesi panjang. Tekstur laser-etched membantu cengkeraman, meski terasa kasar dan cepat membuat telapak tangan berkeringat.
Layar 8 inci FHD+ dengan refresh rate 120Hz dan kecerahan 500 nits menyuguhkan visual tajam serta kaya warna. Panelnya belum sepekat OLED milik Steam Deck, pun tetap memadai untuk bermain di luar ruangan. RGB halus di sekitar thumbstick dan warna Void Purple memberi identitas visual yang kuat.
Performa: GPU Lebih Cepat dari Kompetitor
Hasil benchmark membuktikan superioritas grafisnya. Di 3DMark, Claw 8 EX AI+ mencetak skor Port Royal 3.544, Fire Strike 12.358, dan Time Spy 6.534—melesat 76 persen, 35 persen, dan 62 persen di atas Asus ROG Ally X yang memakai AMD Ryzen Z2 Extreme.
Menariknya, skor CPU justru sedikit kalah. GeekBench 6.5 mencatat 2.492 untuk single-core dan 12.550 untuk multi-core; ROG Ally X meraih 2.788 dan 12.883. Keunggulan Claw murni berasal dari sektor grafis.
Bukan Sekadar Angka
Pengujian nyata mengonfirmasi kekuatan GPU tersebut. Cyberpunk 2077 di setting Ultra tanpa ray tracing berjalan di 43fps, sementara ROG Ally X hanya mampu 8fps. Doom: The Dark Ages dan Clair Obscur: Expedition 33 tembus 60fps stabil. Baldur's Gate 3 di setting grafis Ultra bertahan di sekitar 38fps.
Tidak semua game mulus. The Elder Scrolls 4: Oblivion Remastered stabil di 60fps di area tertutup, tapi anjlok drastis di area terbuka yang padat. Ini tetap wajar untuk genggam—perangkat sejenis biasanya langsung menyerah pada game seberat itu.
Software: Windows 11 Jadi Batu Sandungan
Launcher MSI Center M sesekali gagal merespons tombol akses cepat. Perpindahan dari menu ke game juga kadang mengunci input kontroler, memaksa pemain keluar-masuk aplikasi. Antarmuka SteamOS dan Xbox milik kompetitor terasa jauh lebih stabil untuk navigasi harian.
Baterai: Kapasitas Besar, Umur Biasa Saja
Baterai 80Whr terdengar besar, tapi durasi pakai nyata justru mengecewakan. Di PCMark 10 Gaming, daya habis dalam 1 jam 36 menit hingga 2 jam 31 menit tergantung mode. Sesi bermain Oblivion Remastered di mode AI default menghabiskan baterai penuh dalam dua jam.
Pengecasan 65W butuh sekitar 90 menit. Kami sempat menemukan bug daya yang membuat baterai tak pernah mencapai 100 persen.
Harga: Bukan Lagi Mainstream
Masalah terbesar ada di banderol USD 1.799,99 (sekitar Rp 29,6 juta). Asus ROG Ally X yang juga kami kritik karena mahal, "hanya" dibanderol USD 999. Bahkan Alienware 16X Aurora dengan RTX 5070 dan performa dua kali lipat lebih tinggi hanya lebih mahal sekitar USD 200.
Di titik ini, Claw 8 EX AI+ bersaing di liga laptop gaming, bukan sesama genggam.
Kesimpulan: Spek Impian, Harga Bukan untuk Semua
MSI Claw 8 EX AI+ adalah genggam paling bertenaga yang pernah ada. GPU-nya mencetak rekor baru untuk kelas perangkat portabel, dan eksekusinya di game-game berat berjalan mulus. Tapi harga selangit membuatnya hanya masuk akal bagi kolektor dengan dana lebih, atau mereka yang benar-benar butuh PC gaming dalam saku.
Bagi gamer mainstream Indonesia, Asus ROG Ally X atau Lenovo Legion Go S menawarkan nilai lebih baik dengan kebutuhan bermain yang sama. Claw 8 EX AI+ tetap produk mengesankan, tapi untuk saat ini, ia lebih sebagai pernyataan teknologi daripada pembelian rasional.