Fasilitas Tangguh LNG di Bintuni Hampir Dilalap Karhutla, Bahlil Sebut Berhasil Ditangani

Selasa, 01 September 2026 | 09:01:00 WIB

PORTALENERGI.ID — "Kemarin hampir (terdampak), Alhamdulillah saya bersyukur bisa ditangani itu (fasilitas) BP di Teluk Bintuni," kata Bahlil saat ditemui di Kompleks DPR RI, Senin (31/8). Ia menambahkan, "Kalau di Kalimantan clear. Di BP itu kalau kami terlambat, waduh. Tapi alhamdulillah sudah bisa tertangani ya."

Tangguh LNG: Proyek Gas Raksasa di Ujung Timur Indonesia

Fasilitas yang nyaris terdampak api tersebut bukan instalasi sembarangan. Tangguh LNG merupakan salah satu proyek gas terbesar di Indonesia yang dikelola oleh BP Berau Ltd. Proyek ini mengembangkan enam lapangan gas yang tersebar di wilayah Kontrak Kerja Sama (KKS) Wiriagar, Berau, dan Muturi di Teluk Bintuni.

Cadangan gas di kawasan ini pertama kali ditemukan pada pertengahan 1990-an oleh Atlantic Richfield Co. (ARCO), sebelum akhirnya diambil alih dan dioperasikan oleh BP. Tangguh mulai berproduksi pada tahun 2009—hanya empat tahun setelah mendapatkan izin awal dari pemerintah Indonesia—dan kini mengoperasikan tiga unit pengolahan (LNG train) dengan kapasitas desain penuh mencapai 11,4 juta ton per tahun.

Jika api sampai meluluhlantakkan fasilitas ini, dampaknya bukan hanya bagi BP sebagai operator, tetapi juga bagi penerimaan negara dan pasokan energi nasional. Proyek ini merupakan salah satu tulang punggung ekspor gas Indonesia dan pemasok utama pembangkit listrik dalam negeri.

Karhutla Papua Barat Masih Meluas

Ancaman kebakaran hutan di Bintuni merupakan bagian dari gelombang karhutla yang melanda sejumlah kabupaten di Papua Barat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran juga terjadi di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak.

"Selain Teluk Bintuni, karhutla juga terpantau di sejumlah wilayah lain, seperti di Kabupaten Fakfak, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak," ujar Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dikutip dari Antara, Selasa (1/9).

Untuk memadamkan api di Teluk Bintuni, BNPB telah menerjunkan satu unit helikopter water bombing yang secara kumulatif melakukan 69 kali penyiraman air. Pengerahan sarana udara itu mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan operasi, karena karakteristik wilayah yang sulit dijangkau dari darat.

Puluhan Titik Panas Masih Terpantau

Data pemantauan satelit NASA-Terra/Aqua, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20 hingga pukul 19.00 WIB pada 28 Agustus 2026 menunjukkan masih terdapat 36 titik panas di wilayah Provinsi Papua Barat. Rinciannya, satu titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 31 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, dan empat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Sementara itu, luas indikatif lahan yang terbakar di Papua Barat hingga 27 Agustus 2026 tercatat mencapai 2.496,39 hektare, berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan. Angka ini menunjukkan skala kebakaran yang tidak bisa dianggap remeh, terlebih mengingat lokasinya yang berdekatan dengan infrastruktur energi penting.

Keberhasilan mengendalikan api di sekitar fasilitas Tangguh LNG menjadi kabar baik di tengah situasi karhutla yang belum sepenuhnya padam. Namun, dengan puluhan titik panas yang masih terpantau, kewaspadaan tetap harus dijaga hingga musim kemarau benar-benar berakhir.

Terkini