Angka Fertilitas Nasional 2,13 Terjadi Disparitas Antarwilayah di Indonesia

Selasa, 15 September 2026 | 21:06:02 WIB
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji.

JAKARTA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menyampaikan bahwa meskipun angka fertilitas total (TFR) secara nasional menyentuh 2,13, masih ada ketimpangan TFR antarwilayah sehingga memerlukan berbagai tindakan penanganan.

Mendukbangga Wihaji menjelaskan dalam rapat bersama DPR di Jakarta, Selasa, bahwa TFR tertinggi dicatatkan oleh Papua Pegunungan (2,78), Papua (2,74), serta Nusa Tenggara Timur (2,72). Di sisi lain, angka terendah tercatat di Jakarta (1,79), Jawa Timur (1,95), dan Banten (1,96).

"Artinya sudah menjadi perhatian, karena standar kami ada 2,1 atau 2,0 untuk melihat jumlah penduduk dan luas geografi dan sekalian rumus kependudukan," kata Mendukbangga Wihaji.

Ia memaparkan angka fertilitas mengalami penurunan signifikan dibanding angka 5,6 pada tahun 1971 menjadi 2,13 di tahun 2025, namun tren penurunan tersebut tidak terdistribusi secara merata di seluruh daerah.

Pada kesempatan itu, Mendukbangga juga mengutarakan bahwa rasio ketergantungan penduduk skala nasional menyentuh angka 44,30. Catatan rasio tertinggi ditempati oleh Papua Selatan dengan nilai 75,40.

"Angka 75,40 berarti di antara 100 yang produktif menanggung 75, kira-kira gitu. Kemudian Papua, kemudian Nusa Tenggara Timur, angkanya 54, sedangkan yang paling produktif itu di DKI Jakarta 40, Kalimantan Timur, kemudian Papua Pegunungan," katanya.

Ia menggarisbawahi perlunya ikhtiar serta kerja sama sinergis demi memastikan perkembangan kuantitas maupun kualitas warga berjalan sejajar. Demi menjaga kestabilan struktur kependudukan, lembaganya mengendalikan jumlah penduduk lewat serangkaian tahapan.

Langkah tersebut meliputi pendewasaan umur pernikahan, pencegahan pernikahan anak, penguatan program KB dan kesehatan ibu-anak, edukasi kesehatan reproduksi serta seksualitas bagi remaja, hingga perluasan jangkauan layanan KB.

Di samping itu, pihaknya ikut mengokohkan mutu sumber daya manusia dan ketahanan keluarga melalui aneka program strategis, seperti pendampingan pengasuhan anak usia dini lewat Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).

Selanjutnya, terdapat program pemberdayaan lansia agar tetap produktif guna mendukung silver economy, serta percepatan eliminasi stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) maupun Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).

Terkini