JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Bulgaria tengah menjajaki perluasan akses pemasaran produk pangan serta pertanian dari kedua negara, sekaligus membuka kran investasi dan kolaborasi teknologi pada sektor pangan.
Pembahasan tersebut dipimpin oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) bersama Wakil Perdana Menteri yang juga menjabat Menteri Ekonomi, Investasi, dan Industri Bulgaria Alexander Poulev saat menggelar pertemuan di Jakarta, Senin (14/9).
"Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat industri pangan nasional sekaligus mendukung ketersediaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG)," kata Zulhas dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Selasa.
Kementerian Koordinator Bidang Pangan menerangkan bahwa dalam dialog tersebut, pihak Indonesia menyodorkan bermacam komoditas unggulan demi memperlebar jangkauan pasar di Bulgaria maupun kawasan Eropa, seperti kakao, kelapa, minyak sawit, hingga ragam olahan pangan halal.
Pihak pemerintah menilai Bulgaria berada di posisi strategis yang sanggup berfungsi sebagai gerbang utama masuknya produk komoditas Indonesia menuju pasar Eropa.
Bukan sebatas transaksi perdagangan, Zulhas menyampaikan bahwa Indonesia turut menawarkan kesempatan investasi kepada pihak Bulgaria, utamanya dalam bidang tata kelola peternakan sapi serta teknologi pengolahan susu di ranah domestik.
Sebaliknya, merujuk keterangan tersebut, Bulgaria juga membuka penawaran dalam menyuplai bermacam komoditas pangan untuk pasar domestik Indonesia, di antaranya susu, daging sapi, jagung, dan tepung terigu.
Di samping itu, Zulhas menambahkan bahwa Bulgaria pun menyatakan kesiapannya untuk mendorong arus investasi beserta alih teknologi pada sektor pertanian dan industri pangan.
Indonesia bersama Bulgaria memandang bahwa penguatan aktivitas perdagangan pangan sanggup mendatangkan faedah bagi kedua pihak, di mana Indonesia menjadi pintu masuk ke pasar Asia Tenggara dan Bulgaria berperan sebagai salah satu gerbang menuju pasar Eropa.
Pihak kementerian mengutarakan bahwa kedua belah pihak selanjutnya bakal menindaklanjuti detail teknis yang mencakup ranah perdagangan, investasi, ketahanan pangan, teknologi pertanian, pemrosesan bahan pangan, sertifikasi halal, hingga pembenahan rantai pasok pangan.
Mengutip rincian data dari Kementerian Perdagangan, total nilai perdagangan antara Indonesia dan Bulgaria pada tahun 2025 sukses menembus angka 230,8 juta dolar AS atau berkisar Rp4,08 triliun.
Pencapaian ekspor Indonesia terhitung senilai 147,4 juta dolar AS atau sekitar Rp2,60 triliun, sementara nilai impor berada di kisaran 83,1 juta dolar AS atau sekitar Rp1,47 triliun, yang membuat Indonesia mencetak angka surplus sebesar 64,2 juta dolar AS atau sekitar Rp1,13 triliun.
Ragam komoditas utama yang menjadi andalan ekspor Indonesia menuju Bulgaria meliputi bijih beserta konsentrat nikel, aluminium tidak ditempa, olahan besi dan baja, sampai produk margarin.
Sementara itu, pasokan impor Indonesia dari negara Bulgaria terdiri dari gandum beserta meslin, perlengkapan medis, bumbu rempah-rempah, tembakau yang belum dipabrikasi, hingga jajaran perlengkapan pertahanan.
Hubungan diplomatik yang terjalin antara Indonesia dan Bulgaria pada tahun 2026 ini resmi menginjak usia 70 tahun. Bulgaria turut menawarkan keunggulan posisinya sebagai gerbang utama bagi perusahaan asal Indonesia guna merambah pasar Uni Eropa yang dihuni sekitar 450 juta jiwa.