JAKARTA - Pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia kembali mencatatkan hasil positif pada Februari 2026.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total penyaluran kredit mencapai Rp 8.559 triliun, naik 9,37 persen secara tahunan.
Kinerja ini menunjukkan bahwa sistem perbankan nasional tetap mampu mendukung aktivitas ekonomi, sekaligus menegaskan peran penting bank dalam memfasilitasi pembiayaan korporasi, investasi, dan UMKM di tengah tantangan global yang kompleks.
“Pada Februari 2026, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen (yoy),” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae.
Pernyataan ini menekankan bahwa pertumbuhan kredit tidak hanya sekadar angka, tetapi menjadi indikator nyata kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap sistem perbankan Indonesia.
Kredit Investasi dan Korporasi Menjadi Motor Pertumbuhan
Pertumbuhan kredit perbankan tidak merata di seluruh jenis pembiayaan. Kredit investasi tercatat mengalami lonjakan tertinggi, yaitu sebesar 20,72 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa sektor usaha besar maupun proyek strategis pemerintah masih mengandalkan perbankan sebagai sumber modal.
Sementara itu, kredit korporasi tumbuh 14,74 persen, menandakan bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia memiliki akses pembiayaan yang memadai untuk ekspansi dan pengembangan usaha.
Dari sisi kepemilikan bank, bank BUMN menjadi yang terdepan dalam pertumbuhan kredit, dengan angka 12,78 persen. Keberhasilan ini mencerminkan peran strategis bank milik negara dalam menyalurkan dana ke sektor usaha yang memiliki dampak ekonomi luas, sekaligus mendukung stabilitas keuangan nasional.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat sebesar Rp 10.102 triliun, naik 13,18 persen. Giro mengalami pertumbuhan 18,56 persen, deposito meningkat 13 persen, dan tabungan naik 8,12 persen.
Pertumbuhan DPK ini tidak hanya menegaskan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, tetapi juga memberikan basis kuat bagi bank untuk menyalurkan kredit secara berkelanjutan.
Likuiditas Perbankan Tetap Kuat
Likuiditas perbankan Indonesia tetap memadai meski kredit tumbuh pesat. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) tercatat 121,29 persen, sementara rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) mencapai 27,4 persen.
Kedua rasio ini masih jauh berada di atas ambang batas masing-masing, yaitu 50 persen untuk AL/NCD dan 10 persen untuk AL/DPK. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan mampu menjaga ketersediaan likuiditas meski terjadi fluktuasi permintaan dana.
Liquidity coverage ratio (LCR) juga menunjukkan kondisi yang sehat, yakni sebesar 195,64 persen. Angka ini menegaskan kemampuan bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek dan menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Kualitas Kredit Masih Terjaga
Meskipun pertumbuhan kredit cukup tinggi, kualitas kredit perbankan relatif stabil. NPL gross berada pada level 2,17 persen, sedangkan NPL net tercatat 0,83 persen. Loan at risk (LaR) berada di angka 9,24 persen, menandakan bahwa risiko kredit masih berada dalam batas terkendali.
Profitabilitas perbankan juga menunjukkan hasil positif. Return on assets (ROA) tercatat 2,37 persen, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) berada pada level 25,83 persen.
Tingkat profitabilitas yang stabil dan ketahanan modal yang kuat menegaskan bahwa perbankan Indonesia memiliki fondasi solid untuk menghadapi tekanan ekonomi, baik internal maupun eksternal.
Survei Perbankan Triwulan I 2026
Survei perbankan OJK pada triwulan I 2026 menunjukkan bahwa kinerja perbankan tetap solid. Risiko-risiko utama terkendali, sementara indeks keyakinan perbankan berada di zona optimistis.
Hasil survei ini menandai bahwa sektor perbankan Indonesia mampu mempertahankan stabilitas operasional sekaligus menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang.
Tantangan di Segmen Kredit UMKM
Meskipun pertumbuhan kredit keseluruhan positif, rasio NPL kredit UMKM mengalami tren yang memburuk. Hal ini menjadi perhatian penting karena UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional.
OJK menekankan perlunya strategi mitigasi risiko lebih efektif, termasuk peningkatan pembiayaan inklusif dan pengawasan kredit yang lebih ketat, agar sektor UMKM tetap produktif dan berkelanjutan.
Prospek dan Strategi Perbankan Ke Depan
Data terbaru OJK menunjukkan bahwa prospek perbankan Indonesia masih optimistis. Pertumbuhan kredit, likuiditas yang memadai, dan profitabilitas yang stabil menegaskan kemampuan bank menghadapi tantangan ekonomi.
Untuk menjaga momentum ini, bank perlu terus memperkuat manajemen risiko, menjaga kualitas kredit, serta memperluas akses pembiayaan ke sektor-sektor strategis, termasuk UMKM dan investasi korporasi.
Dengan kondisi likuiditas yang kuat, rasio profitabilitas yang stabil, serta ketahanan modal yang memadai, bank-bank Indonesia diperkirakan tetap mampu menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Tantangan seperti meningkatnya NPL UMKM harus diantisipasi dengan kebijakan yang tepat agar sektor perbankan tetap sehat dan mampu mendukung pembangunan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, penyaluran kredit perbankan Indonesia pada Februari 2026 menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang solid. Kredit investasi dan korporasi menjadi pendorong utama, sementara bank BUMN mencatatkan pertumbuhan tertinggi.
Likuiditas dan profitabilitas bank tetap kuat, kualitas kredit relatif terjaga, dan survei OJK menunjukkan optimisme tinggi di sektor perbankan. Meski terdapat tantangan di segmen UMKM, prospek perbankan tetap positif, menegaskan peran strategisnya dalam perekonomian nasional.