JAKARTA - Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini mengirimkan sebuah amanat khusus untuk seluruh aparatur sipil negara (ASN) di tanah air melalui surat tertulis tangan.
Goresan pena di atas empat lembar kertas ber tinta hijau tersebut dibagikan oleh Rini melalui laman Instagram pribadinya, @menpanrb, pada Sabtu (18/7/2026).
“Untuk seluruh ASN yang saya cintai dan banggakan. Melalui pesan ini, saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh ASN yang setiap hari terus bekerja melayani masyarakat,” tulis Rini, dikutip Kompas.com, Sabtu (18/7/2026).
Pada lembar dokumen tersebut, Rini menyapa segenap abdi negara sebagai rekan sejawat yang memikul tanggung jawab yang besar. Ia mafhum bahwa dinamika keseharian para pegawai tidak selalu berjalan mulus.
Rini menguraikan bahwa sebagian ASN mesti bertugas di bawah keterbatasan, memikul ekspektasi tinggi dari publik, hingga dituntut ramah melayani di kala fisik kelelahan, memendam kerinduan pada keluarga, ataupun menghadapi kendala personal.
Kendati demikian, para pegawai dinilai tetap mengenakan pakaian tugas, menuntaskan kewajiban dengan membuka pintu pelayanan, merespons kebutuhan masyarakat, serta hadir mewakili eksistensi negara setiap waktu.
Bagi Rini, komitmen tersebut merupakan sebuah amanah sekaligus ladang ibadah. Ia turut mengingatkan bahwa dedikasi tinggi para pegawai negeri memang kerap kali luput dari pemberitaan media maupun pujian khalayak.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap anak yang mengenyam edukasi berkualitas, setiap pasien yang dirawat tulus, setiap logistik bantuan yang tiba di warga, pembangunan jalan, hingga ketepatan kelola data merupakan manifestasi kehadiran negara lewat kontribusi para ASN.
Di tengah pelbagai hambatan yang dihadapi oleh tanah air, Rini mengimbau seluruh aparatur agar konsisten fokus mengawal mandat negara. Ia berharap kendala yang ada dapat dikonversi menjadi pemantik motivasi guna mendongkrak performa pelayanan publik.
“Tantangan jadikan booster untuk terus semangat melayani. Justru saat tantangan besarlah profesionalisme dibutuhkan, dan pengabdian menemukan maknanya,” kata dia.
Ia menyatakan secara lugas bahwa perjalanan sejarah suatu bangsa tidak dibentuk oleh figur yang sekadar giat di masa aman, melainkan oleh insan yang bergeming teguh, giat bekerja, serta meyakini kebaikan hari ini akan menjadi warisan bagi generasi penerus.
Rini turut menyampaikan rasa optimisnya bahwa mayoritas abdi negara masih terus konsisten bekerja dalam senyap tanpa publikasi, namun tetap memperlihatkan loyalitas kerja yang luar biasa.
“Mereka adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya,” tulis dia.
Sebagai penutup wejangan, Rini menyerukan agar seluruh ASN memegang teguh pedoman nilai berakhlak, menjaga nilai moral, mengasah kapabilitas diri, kompak menguatkan, dan menyajikan mutu pelayanan publik yang optimal.
Ia menandaskan slogan "Bangga Melayani Bangsa" wajib tertanam sebagai fondasi kultur kerja para pegawai supaya sistem birokrasi tidak sekadar berkutat pada urusan tata usaha, tetapi menjadi motor penggerak asa bagi masyarakat.
“Terima kasih atas dedikasi, kesabaran, dan ketulusan Anda semua. Tetaplah menjadi cahaya. Tetaplah melayani, bahkan ketika tidak semua orang melihat,” tulis dia.
“Karena Indonesia yang maju tidak lahir dari kerja satu orang, tetapi dari jutaan ASN yang memilih untuk tetap mengabdi dengan hati. Teruslah melayani. Teruslah menginspirasi. Teruslah menjaga Indonesia. Salam hangat, Rini Widyantini, 18 Juli 2026,” pungkas dia.
Mengenai pemicunya, Rini mengonfirmasi tidak terdapat alasan ataupun momentum seremonial tertentu yang melatarbelakangi penulisan pesan bermakna mendalam tersebut. Bagi dirinya, ia semata-mata merasa harus menyapa para ASN di seluruh daerah.
“Selama karier saya sejauh ini, saya banyak bertemu ASN yang bekerja jauh dari sorotan, di puskesmas, di sekolah, di kantor-kantor kecamatan, yang tetap hadir meski dengan berbagai keterbatasan. Mereka jarang sekali mendapat ucapan terima kasih,” ucap Rini, kepada Kompas.com, Sabtu.
Rini mengungkapkan sengaja menggunakan tulisan tangan sendiri karena dirasa memiliki kedekatan personal yang lebih kuat. Ia memandang coretan tersebut bukanlah regulasi resmi, melainkan pesan hangat antar-sesama pemegang amanah negara.
Ia menggarisbawahi bahwa kementerian akan terus menggulirkan program pembenahan sistem birokrasi sekaligus menampung ragam kritik konstruktif untuk bahan peninjauan ke depan.
“Tapi memperbaiki sistem dan menghargai orang yang bekerja di dalamnya bukan dua hal yang bertentangan. Justru reformasi berjalan paling baik ketika ASN merasa dipercaya,” tegas dia.