JAKARTA - Ungkapan populer mengenai kehebatan buah apel bagi kesehatan tubuh manusia sudah sangat melekat di tengah kehidupan masyarakat luas.
Akan tetapi, aktivitas mengonsumsi buah ini sejatinya tetap perlu dijalankan dengan penuh kewaspadaan.
Jangan sampai Anda secara ceroboh menelan bagian biji apel tersebut dalam jumlah atau kuantitas yang terlampau banyak.
Bagian biji dari buah apel ini memang telah diidentifikasi memiliki kandungan zat beracun yang berbahaya.
Menukil data dari VN Express, bagian biji tersebut menyimpan senyawa alami berupa amigdalin yang dapat melepaskan zat kimia beracun jenis sianida ketika masuk ke dalam sistem pencernaan.
Zat sianida sendiri sudah sangat populer sebagai racun mematikan yang sanggup merusak organ jantung hingga jaringan otak manusia.
Apabila masuk ke dalam tubuh dalam takaran dosis yang tinggi, efek racun ini mampu memicu kondisi koma hingga berujung pada kematian.
Lembaga Center for Disease and Prevention Control (CDC) asal Amerika Serikat memberikan estimasi bahwa paparan dosis sianida oral berkisar 1 hingga 2 miligram per kilogram bobot tubuh dapat berakibat fatal.
Berdasarkan publikasi dari Medical News Today, zat racun ini beroperasi dengan cara memblokir pasokan oksigen menuju ke sel-sel di dalam tubuh manusia.
Indikasi keracunan zat ini umumnya bakal mulai terdeteksi dalam kurun waktu beberapa menit hingga beberapa jam setelah tidak sengaja tertelan.
Tanda awal dari gejala keracunan zat ini meliputi terjadinya pelebaran pada area pupil mata, munculnya rasa sakit kepala, pusing, hingga kondisi kebingungan.
Sementara untuk tingkat kasus keracunan yang berada pada level lebih akut, indikasi klinis yang ditimbulkan dapat berupa penurunan kesadaran, merosotnya tekanan darah, kejang, koma, sampai kematian.
Tindakan menelan beberapa butir biji apel secara tidak sengaja kemungkinan besar belum akan menstimulasi munculnya indikasi gejala keracunan yang parah.
Namun, aktivitas memakan atau meminum olahan biji yang sudah dihancurkan dalam skala besar bisa memicu keracunan jika takaran dosisnya tinggi.
Dosis paparan sianida yang berada pada level mematikan adalah berkisar di angka 50 sampai 300 miligram.
Sebuah riset ilmiah pada tahun 2018 memaparkan bahwa risiko keracunan akut baru akan terjadi apabila ada sekitar 83 hingga 500 butir biji apel yang dikonsumsi, sehingga beberapa biji dalam satu buah apel dinilai masih aman.
Meskipun demikian, tingkat ambang toleransi dari organ tubuh setiap individu terhadap paparan zat sianida dipastikan berbeda-beda.
Variasi jenis dari buah apel serta kondisi dari benih itu sendiri juga menjadi faktor eksternal yang turut memberikan kontribusi.
Walaupun dinilai masih dalam batas aman, tindakan membuang bagian biji terlebih dahulu sebelum menyantap buah apel tetap dipandang sebagai opsi yang jauh lebih bijak.
Bukan hanya buah apel semata, beberapa jenis sumber pangan nabati lainnya tercatat ikut menyimpan kandungan senyawa yang dapat menghasilkan zat sianida.
Hasil studi ilmiah sukses mengidentifikasi minimal 55 jenis bahan kimia sianogenik yang berbeda pada lebih dari 2.650 varietas tanaman.
Selain pada buah apel, beberapa jenis buah-buahan lain yang terbukti ikut mengandung zat serupa di antaranya adalah buah pir, aprikot, serta ceri.
Akan tetapi, tingkat risiko bahaya tersebut hanya dijumpai pada bagian benih atau biji dari ketiga buah itu saja, sementara bagian daging buahnya dipastikan tetap aman dikonsumsi.
Di samping itu, kelompok kacang-kacangan dari rumpun Rosaceae yang sekeluarga dengan tanaman apel, layaknya almond dan kacang mete, juga memiliki kandungan senyawa amigdalin.
Zat penghasil sianida ini memang eksis di banyak sumber nabati, namun jika dikonsumsi dalam batas yang wajar, efeknya tidak akan sampai memicu keracunan akut.