JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas menyampaikan proyeksi bahwa pihak Bank Indonesia bakal kembali mengerek naik tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin hingga mencapai level 6 persen pada tahun berjalan ini. Situasi pengetatan tersebut diperkirakan bakal terus berlangsung sampai dengan penghujung tahun.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menerangkan salah satu tantangan berat pasar keuangan domestik Republik Indonesia pada paruh kedua tahun 2026 ini bersumber dari dinamika kebijakan moneter global.
Mirae Asset Sekuritas turut memproyeksikan bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 25 bps pada pelaksanaan pertemuan bulan September serta Desember 2026.
Dengan skenario tersebut, era penerapan kebijakan suku bunga tinggi diperkirakan masih akan mendominasi dalam jangka waktu yang lebih panjang.
”Ke depan kalau kami lihat, besok kalau kami perkirakan suku bunga akan naik sekali lagi menjadi 6%. Setelah itu akan tetap stay di 6% sampai akhir tahun. Jadi situasi likuiditasnya dari sisi moneter akan cenderung diperketat,” kata Rully dalam Media Day Mirae Asset, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga : Jelang RDG BI, Ekonom BSI Prediksi BI Rate Naik 25 Bps
Kategori sektor perbankan dinilai menjadi salah satu bidang industri yang akan menghadapi tantangan signifikan sebagai imbas dari kebijakan higher for longer yang diterapkan Bank Indonesia, khususnya bagi entitas perbankan yang memiliki rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) di level yang tinggi.
Meskipun demikian, pihak Mirae Asset secara keseluruhan masih menyematkan pandangan outlook netral terhadap sektor perbankan di Tanah Air.
Rully menilai bahwa masih terdapat sejumlah lembaga perbankan yang mempunyai ketahanan serta keunggulan tersendiri dalam melewati fase tekanan suku bunga tinggi ini.
”Biasanya memang, bank yang memiliki LDR yang tinggi, mengalami dampak negatif yang lebih besar ketika suku bunga dinaikkan. Kalau dari sisi perbankan, memang kami lihat sektornya masih netral,” katanya.
Di samping itu, proyeksi kenaikan tingkat suku bunga tersebut juga diproyeksikan bakal mendongkrak tingkat yield acuan Surat Berharga Negara (SBN) Republik Indonesia. Menurut analisisnya, posisi angka yield acuan yang berlaku saat ini masih belum cukup kuat guna memberikan daya tarik yang optimal bagi kembalinya minat para investor asing untuk masuk ke pasar SBN.
Mirae Asset memperkirakan bahwa level yield acuan harus berada pada kisaran 7,5 persen agar instrumen surat utang milik Indonesia dapat kembali tampil kompetitif ke depannya.
”Jadi dengan rupiah yang kami perkirakan masih di sekitar Rp18.000, saya rasa sulit untuk Bank Indonesia melakukan penurunan [suku bunga]. Jadi saat ini sementara, kondisinya adalah higher for longer dan ini juga pasti akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi itu akan mengalami perlambatan,” katanya.
Sebagai bentuk penyesuaian, pihak Mirae Asset Sekuritas Indonesia melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional menjadi sebesar 4,8 persen pada tahun 2026 serta 4,9 persen pada tahun 2027 mendatang, di mana angka tersebut mengalami koreksi dari estimasi sebelumnya yang masing-masing berada di level 5,0 persen dan 5,1 persen.
Penyesuaian ini terjadi seiring dengan melemahnya tingkat permintaan di pasar domestik, situasi eksternal yang dinilai kurang kondusif, serta tekanan kebijakan moneter global yang masih ketat.
Sementara itu, indikator tingkat inflasi nasional diproyeksikan bakal menyentuh angka 4,0 persen pada tahun 2026 sebelum akhirnya kembali mereda masuk ke dalam rentang target sasaran Bank Indonesia yang berada di kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen pada tahun 2027.
”Kami tetap mempertahankan BBCA sebagai top pick di sektor perbankan. Selain itu, kami juga merekomendasikan BRIS, ADRO, TLKM, EXCL, JPFA, CMRY, dan INKP sebagai saham pilihan yang memiliki fundamental kuat dan prospek yang menarik di tengah dinamika pasar saat ini," katanya.