Langkah Pefindo Ungkap Sektor Berisiko Turun Peringkat Utang 2026

Langkah Pefindo Ungkap Sektor Berisiko Turun Peringkat Utang 2026
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) membeberkan deretan sektor yang berisiko mengalami penurunan peringkat utang sepanjang tahun 2026.

Kondisi tersebut dipicu oleh eskalasi gejolak geopolitik serta pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi menjadi batu sandungan bagi korporasi di lini bisnis tertentu.

Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan 1 Pefindo Martin Johannes menjelaskan bahwa dalam proses pemeringkatan kredit, Pefindo berfokus pada dua titik risiko utama, yakni ketegangan geopolitik global serta potensi pelemahan rupiah.

Menghadapi tantangan tersebut, Pefindo menilai sektor yang mengandalkan aktivitas transaksi pembelian dalam mata uang asing menjadi salah satu kelompok paling terdampak. Risiko jauh lebih tinggi membayangi perusahaan yang melakukan pengadaan bahan baku dari kawasan berkonflik.

”Dari pemantauan kami, sektor-sektor hilirisasi seperti stainless steel, HPAL, aluminium, itu sedikit banyaknya akan terpapar risiko dari adanya geopolitik dan pelemahan rupiah,” katanya dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (22/7/2026).

Kondisi serupa mengintai sektor transportasi, pariwisata, hingga deretan perusahaan yang bergantung pada impor material luar negeri, seperti jasa konstruksi. Lini bisnis yang terkait langsung dengan tingkat inflasi, ritel, hingga properti turut menanggung tingkat risiko serupa.

Sebaliknya, Pefindo mencatat adanya peluang peningkatan peringkat bagi sektor berbasis ekspor. Menurutnya, sektor migas upstream menjadi salah satu yang bakal mendulang keuntungan di tengah pelemahan rupiah.

”Begitupun kondisi geopolitik yang tidak stabil, bagi sektor seperti tambang emas akan mendapatkan manfaat karena kita tahu bahwa produk emas dijadikan salah satu tambalan di dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi,” tegasnya.

Di samping itu, sektor perkebunan diproyeksikan bakal meraup berkah dari akselerasi kebijakan B50 yang diusung oleh pemerintahan Prabowo Subianto.

Hingga 30 Juni 2026, Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan 1 Pefindo telah menuntaskan pemeringkatan atas 111 surat utang dari 58 entitas. Porsi pemeringkatan terbesar disumbang sektor kehutanan, pulp & paper, serta perkebunan, yang masing-masing mencatatkan 16 peringkat.

Dari total 111 publikasi peringkat tersebut, sebanyak 35 surat utang mengantongi peringkat idA dan 30 surat utang meraih peringkat idA+. Hanya ada 5 perusahaan yang berada di bawah posisi peringkat idA-.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index