Mengurai Faktor Pertumbuhan Tinggi Anak dari Yamal Messi dan Haaland

Mengurai Faktor Pertumbuhan Tinggi Anak dari Yamal Messi dan Haaland
Ilustrasi Pertumbuhan Tinggi Anak Atlet.

JAKARTA - Pada era modern saat ini, cita-cita anak tak lagi sebatas profesi konvensional. Banyak generasi muda terinspirasi oleh bintang olahraga dunia dan bermimpi mengukir prestasi serupa di kancah global.

"Anak-anak sekarang mimpinya beda kan? Dia pengin menjadi kayak Lamine, dia pengin menjadi kayak Messi, pengin menjadi kayak Ronaldo," ungkap Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi Rumah Sakit Pondok Indah, Rabu (22/7/2026).

Kendati demikian, untuk berkarier profesional di dunia olahraga, aspek ketahanan dan kelayakan fisik kerap menjadi pertimbangan utama.

Dokter Aman memaparkan bahwa proses pertumbuhan fisik anak sangat dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor genetik, kondisi medis, serta kualitas asupan nutrisi.

Banyak orang tua mengira pertumbuhan anak akan terhenti sebelum usia remaja berakhir. Padahal, masa emas pertumbuhan sangat bergantung pada kondisi penutupan lempeng epifisis tulang. Selama lempeng tersebut belum menutup sempurna, pertambahan tinggi badan masih sangat memungkinkan.

Pemain bintang timnas Spanyol, Lamine Yamal, menjadi contoh nyata fase late bloomer atau pertumbuhan terlambat yang tergolong normal.

"Lamine Yamal coba. Dia masih aja masih bertumbuh," tutur dr. Aman.

Fase pubertas akhir memberikan dorongan signifikan bagi postur tubuh pemain Barcelona tersebut, sehingga tinggi badannya terus bertambah menjelang usia dewasa.

"Dia nambah 10 cm pada saat dari umur 15 ke 16 tahun, atau 16 ke 17 tahun," tambah dr. Aman.

Berbeda dari Yamal yang tumbuh secara alami, Lionel Messi sempat mengalami kendala medis pada masa kecilnya akibat masalah hormon pertumbuhan.

Dagnosis defisiensi growth hormone sempat membuat postur Messi tertinggal jauh dan berisiko sangat pendek dibandingkan rekan-rekan sebayanya.

"Kalau si Lamine ini ternyata tidak tumbuh, kayak si Messi, pastilah mereka (dokter) akan kasih growth hormone kayak Messi kan," kata dr. Aman.

Tanpa penanganan medis tepat, anak dengan kekurangan hormon pertumbuhan akan berpostur sangat mungil sehingga membatasi potensi fisiknya. Terapi hormon pertumbuhan menjadi langkah krusial yang membantu Messi mencapai postur tubuh fungsional seperti sekarang.

"Orang-orang yang misalnya, kalau dia tidak bertumbuh, mungkin dia tidak menjadi tokoh dunia pada saat ini," ucap dr. Aman.

Sementara itu, postur tubuh menjulang penyerang Norwegia, Erling Haaland, murni didorong oleh keunggulan faktor genetik Kaukasia.

Keturunan Kaukasia secara genetis diprogram untuk memiliki postur tinggi saat dewasa, yang mulai terlihat menonjol dari kurva pertumbuhan normal setelah melewati masa bayi.

"Anaknya si Haaland, dia akan terjadi catch up physiologic pada saat mendekati umur 3 tahun, mencari jalur genetiknya," tutur dr. Aman.

Dokter Aman mengamati banyak ibu di Indonesia yang kagum pada postur Haaland hingga berniat meniru pola makan tinggi protein sang penyerang Manchester City untuk anak mereka.

Namun, ia mengingatkan agar orang tua di Indonesia tidak gegabah meniru diet ekstrem tersebut. Secara historis, masyarakat Asia lebih terbiasa memproses karbohidrat dalam pola konsumsi harian.

"Kami secara nenek moyang ini bukan pemakan protein tinggi. Tidak kayak orang Afrika ataupun Kaukasian," jelas dr. Aman.

Meski tidak mengonsumsi ratusan gram protein saban hari, anak-anak di negara Asia seperti Jepang dan Tiongkok tetap dapat tumbuh optimal dengan menu seimbang berbasis nasi atau mi.

Memaksakan asupan tinggi protein secara berlebihan justru berisiko membahayakan organ tubuh anak.

"Makanya, makan yang berlebihan protein yang sampai sekian ratus gram itu, bisa merusak ginjal. Dan juga akan memicu obesitas kalau tidak dibakar," pungkas dr. Aman.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index