JAKARTA - Olahraga kebugaran HYROX kini makin populer di kalangan pencinta aktivitas fisik. Perlombaan yang memadukan lari dan latihan kekuatan ini menawarkan tantangan tersendiri bagi para penggiatnya.
Namun di balik tren tersebut, peserta diimbau tidak asal ikut tanpa memahami kondisi fisik serta tingkat kesiapan tubuh masing-masing.
Dokter spesialis penyakit dalam, Jessica Marsigit, menjelaskan bahwa HYROX tergolong jenis olahraga berintensitas tinggi karena memadukan lari dan latihan fungsional secara bergantian.
"HYROX itu sebenarnya brand. Ibaratnya seperti kami menyebut semua air mineral dengan (sebuah merek). Olahraga ini menggabungkan lari dan strength training dalam satu kompetisi," ujar Jessica dari Brawijaya Hospital Duren Tiga dalam ajang CNN Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 di Jakarta Selatan, Rabu (22/7/2026).
Aktivitas fisik yang berat membuat kebutuhan energi dan asupan oksigen meningkat drastis, sehingga otot dituntut bekerja keras.
Jika dipaksakan dalam kondisi tubuh tidak siap, risiko kelelahan berlebihan hingga cedera fisik dapat meningkat tajam.
"Kalau dipaksakan dalam kondisi tubuh tidak siap, kami akan lebih cepat ngos-ngosan. Risiko cedera juga lebih besar. Karena itu memang harus ada persiapannya," kata dia.
Bagi orang dewasa usia produktif 20 hingga 30 tahun tanpa riwayat penyakit, skreening awal bisa menggunakan kuesioner Physical Activity Readiness Questionnaire (PAR-Q).
Sementara bagi warga berusia di atas 40 hingga 50 tahun atau yang memiliki komorbid seperti diabetes dan hipertensi, medical check-up sangat dianjurkan.
"Kalau usia di atas 40 atau 50 tahun, sebaiknya medical check-up dulu karena ini olahraga yang cukup berat," ujarnya.
"Bagi yang punya diabetes atau tekanan darah tinggi, sebaiknya tetap medical check-up untuk menilai kesiapan tubuhnya," tambahnya.
Bagi penyintas penyakit jantung, latihan harus disesuaikan dan berada di bawah pengawasan dokter spesialis.
"Kalau memang ada riwayat penyakit jantung, jangan langsung mengikuti program latihan sendiri. Konsultasikan dulu dengan dokter. Nanti bisa dibuatkan program latihan yang bertahap sesuai kondisinya," ujarnya.
Sebab, olahraga ini memerlukan kerja jantung yang maksimal serta pasokan oksigen yang sangat besar.
"Karena HYROX kebutuhan oksigennya cukup besar. Kalau misalnya ada sakit jantung, takutnya pas lagi kami paksa lari, kebutuhan oksigennya naik. Itu yang biasanya bisa tiba-tiba pingsan, jatuh, atau bahkan bisa sampai meninggal," jelasnya.
Jessica memungkasi agar masyarakat tidak memaksakan diri hanya demi mengikuti tren tanpa memperhatikan kesehatan diri.
"Tetap olahraga, tetapi pilih olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh dan, bila memang memiliki penyakit tertentu, lakukan di bawah pengawasan dokter," tutupnya.