Kredit UMKM Masih Tertahan, OJK Optimistis Pulih hingga Akhir 2026

Kredit UMKM Masih Tertahan, OJK Optimistis Pulih hingga Akhir 2026
Ilustrasi Kredit.

JAKARTA - Penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menunjukkan pergerakan yang lambat pada tahun ini. Di tengah target indikatif sebesar 7 persen hingga 9 persen yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), realisasi pembiayaan masih tertahan jauh di bawah sasaran akibat tertahannya permintaan serta kehati-hatian pihak perbankan.

Merujuk pada Data Analisis Uang Beredar Bank Indonesia, penyaluran kredit UMKM pada Juni 2026 tercatat hanya tumbuh 1 persen secara tahunan (year on year/YoY), sedikit naik dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,6 persen YoY. Capaian ini mencerminkan pemulihan yang masih sangat terbatas pada sektor pendukung ekonomi nasional tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa dinamika perekonomian yang memengaruhi pola konsumsi turut memberikan tekanan pada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Imbasnya, omzet dan perputaran kas pelaku usaha ikut terganggu sehingga menekan permintaan pembiayaan.

“Hal tersebut selanjutnya dapat memengaruhi aktivitas UMKM dan pembiayaan di tengah proses pemulihan sektor UMKM pascapandemi sehingga relatif lebih lambat dibandingkan sektor korporasi,” ujar Dian dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (23/7/2026).

Kendati demikian, OJK memproyeksikan pertumbuhan pembiayaan sektor UMKM dapat berangsur membaik hingga pengujung tahun. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang terjaga dinilai berpotensi mendorong kembali aktivitas usaha dan kebutuhan modal masyarakat.

OJK bersama pemerintah juga memperkuat aksesibilitas pembiayaan lewat penerbitan Peraturan OJK (POJK) No.19/2025. Regulasi ini mendorong perbankan menghadirkan layanan kredit yang lebih mudah, murah, serta inklusif, sekaligus memperluas skema pembiayaan berbasis rantai pasok (supply chain financing) dan digitalisasi.

Dari sudut pandang pengamat, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai target OJK semakin menantang untuk dicapai pada semester kedua. Meskipun penyaluran kredit industri secara keseluruhan tumbuh kuat 12,67 persen YoY, perlambatan utama memang terkonsentrasi di segmen UMKM.

Irman memaparkan dua faktor utama penekan pertumbuhan ini, yakni lemahnya konsumsi rumah tangga dari sisi permintaan serta ketatnya standar penyaluran kredit dari sisi penawaran bank akibat risiko ketidakpastian global dan tingkat suku bunga.

Guna mengatasi hambatan ini, Irman menyarankan penguatan skema penjaminan kredit (risk sharing), perluasan insentif makroprudensial, hingga integrasi data digital untuk mempermudah proses evaluasi kredit (credit scoring).

“Ke depan, pertumbuhan kredit UMKM berpotensi membaik secara bertahap apabila permintaan domestik mulai pulih dan kebijakan pendukung terus diperkuat. Namun, tanpa perbaikan fundamental pada sisi permintaan maupun mitigasi risiko kredit, laju pertumbuhan kemungkinan masih akan berada di bawah target tahun ini,” tuturnya.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan tren positif dengan mencatatkan pertumbuhan kredit UMKM sebesar 5,48 persen YoY per Juni 2026. Capaian tersebut ditopang oleh pembiayaan ekosistem UMKM Kerakyatan (KUM) yang melonjak hingga 15,7 persen YoY.

Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo menegaskan bahwa penyaluran pembiayaan akan terus difokuskan secara selektif pada sektor-sektor produktif unggulan daerah seperti pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan jasa produksi.

“Dukungan Bank Mandiri terhadap segmen UMKM, mikro dan individu, terus kami perluas secara merata di seluruh Indonesia dengan pertumbuhan yang melampaui industri di masing-masing wilayah,” ungkap Totok dalam Paparan Kinerja Kuartal II/2026 Bank Mandiri secara virtual, Kamis (23/7/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index