JAKARTA — Kebiasaan menepuk punggung atau pundak bayi usai menyusu guna memicu sendawa telah umum diterapkan oleh banyak orang tua. Praktik ini dipercaya dapat mengeluarkan gas yang terjebak di lambung, membuat bayi merasa lebih lega, serta meminimalkan risiko gumoh.
Kendati demikian, tidak sedikit orang tua yang ragu apakah tindakan tersebut merupakan keharusan setiap kali selesai menyusui. Sebab, sebagian bayi tetap tenang walau tidak disendawakan, sedangkan sebagian lainnya justru gampang muntah atau tampak gelisah.
Dokter Konsultan Gastroentero Hepatologi Anak dari Eka Hospital MT Haryono, Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A. (K) mengatakan, menepuk pundak bayi setelah menyusu sebenarnya tidak selalu wajib dilakukan. Kebutuhan untuk membantu bayi bersendawa bergantung pada kondisi masing-masing anak.
"Tidak harus selalu, itu tergantung kondisi anaknya. Gambarannya seperti ini, seorang bayi sebelum minum itu lambungnya ada udara, lalu udaranya terdorong ke bawah saat dia minum," jelas dr. Eva dalam Media Meet Up Eka Hospital MT Haryono, di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
Dokter Eva menggarisbawahi bahwa profil sistem pencernaan tiap bayi tidaklah seragam. Oleh sebab itu, orang tua tak perlu memaksakan satu metode baku pada semua anak, melainkan harus menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing.
Pendorongan Udara di Lambung Lewat Sendawa
Ia memaparkan bahwa sebelum menyusu, rongga lambung bayi telah terisi udara. Saat proses menyusu berlangsung, gas tersebut akan terdorong ke area bawah lambung oleh masuknya asupan cairan.
Ketika kebutuhan susu bayi terpenuhi, udara yang berada di dasar lambung secara alami bakal kembali bergerak ke atas.
Dalam kondisi tertentu, alur keluarnya gas ini dapat dipermudah dengan cara menggendong bayi dalam posisi berdiri (tegak) sembari menepuk bagian punggung atau pundak secara perlahan.
"Ketika anak sudah kenyang, udara yang di bawah itu lama kelamaan akan terdorong. Jika kami dirikan si anak dan tepuk-tepuk, maka udaranya akan naik ke atas dan keluar udaranya dengan bersendawa," ujarnya.
Bersendawa menjadi mekanisme alami tubuh untuk membuang udara yang ikut tertelan tatkala menyusu. Terbuangnya gas tersebut membantu sebagian bayi merasa lebih nyaman setelah minum susu.
Bantuan Sendawa untuk Bayi yang Sering Muntah
Meski bukan keharusan bagi seluruh bayi, dr. Eva menilai ada indikasi khusus yang membuat bayi lebih memerlukan bantuan penanganan udara di lambung. Salah satunya yakni ketika si kecil memiliki kecenderungan sering muntah usai menyusu atau menunjukkan tanda-tanda refluks asam lambung.
Pada keadaan demikian, volume udara di dalam organ lambung biasanya lebih tinggi sehingga memicu tekanan ekstra.
"Bisa dilihat kondisi anaknya, kalau sering muntah, seperti asam lambung, itu artinya ada banyak udara di lambungnya. Kondisi ini artinya orangtua harus bantu anak sendawa dengan ditepuk-tepuk pelan," kata dr. Eva.
Tindakan mengusap atau menepuk punggung dan pundak secara halus bertujuan memudahkan gas keluar. Penanganan ini disarankan dilakukan dengan lembut agar bayi tidak merasa terganggu.
Perlakuan Fleksibel Sesuai Respon Anak
Apabila bayi tidak memperlihatkan keluhan atau rasa tidak nyaman pasca-menyusu, orang tua tak perlu selalu menepuk pundaknya setiap usai makan.
Dr. Eva menegaskan tidak ada aturan baku yang mewajibkan semua bayi bersendawa tiap kali selesai minum susu. Orang tua cukup mengamati reaksi si kecil sebagai dasar pertimbangan perlu atau tidaknya bantuan tersebut.
"Namun, jika tidak ada tanda tersebut, maka tidak harus setiap makan ditepuk-tepuk. Sebab, setiap anak itu unik dan enggak sama perlakuannya," ungkap dia.
Kemampuan mengenali karakter dan kebutuhan fisik bayi menjadi kuncinya. Sepanjang si kecil tampak nyaman, jarang muntah, serta tumbuh kembangnya berjalan optimal, orang tua tak perlu cemas jika bayi tidak selalu bersendawa.
Oleh karena itu, ia mengimbau para orang tua agar tidak kaku memegang tradisi turun-temurun, melainkan lebih mengutamakan respons riil dari tubuh si kecil.