Penyebab Orang Bertubuh Kurus Tetap Berisiko Penyakit Jantung 2026

Penyebab Orang Bertubuh Kurus Tetap Berisiko Penyakit Jantung 2026
Ilustrasi Penyakit Jantung.

JAKARTA - Penyakit kardiovaskular masih bertengger sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia. Anggapan keliru yang menyebut gangguan jantung hanya mengintai orang berbadan gemuk membuat banyak orang bertubuh kurus mengabaikan risiko serupa.

Riset PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mengungkap bahwa individu berberat badan normal dengan gangguan metabolisme berisiko 2-3 kali lebih tinggi terkena penyakit jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menyampaikan bahwa pandangan masyarakat soal penyakit jantung yang melulu menyerang orang gemuk masih sangat dominan.

"Hampir 1 dari 4 orang yang bertubuh kurus itu menyimpan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah," kata dr. Susetyo.

Faktor penentu kesehatan jantung sejatinya tidak cuma dipatok dari angka di atas timbangan badan.

"Memang benar obesitas atau ukuran berat badan itu berhubungan secara langsung atau linier dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Tapi, bukan hanya obesitas atau kalau kami tarik kembali bukan hanya angka yang tampak di timbangan berat badan yang menentukan apakah kami nanti akan mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah," ungkap dr. Susetyo.

Penyebab utamanya kerap bermula dari tingginya kadar kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein (LDL) dalam darah.

Bagi orang dewasa tanpa faktor risiko, batas aman LDL berada di bawah 100 mg/dL, sedangkan penderita riwayat stroke atau serangan jantung wajib menekan kadar LDL hingga di bawah 55 mg/dL.

"Kalau kami sudah dewasa dan tidak memiliki faktor risiko kardiovaskular yang jelas, kolesterol LDL-nya di bawah 100 mg/dL. Tapi bagi mereka yang sudah pernah mengalami serangan jantung atau stroke, maka kolesterol LDL-nya harus di bawah 55," jelas dr. Susetyo.

Penumpukan LDL yang dibiarkan bakal membentuk plak aterosklerosis yang menyumbat aliran darah serta pasokan oksigen menuju organ vital.

"Kalau pembuluh darah kami kadar kolesterol jahat LDL-nya rendah, maka tidak akan tercipta atau terbentuk yang disebut plak aterosklerosis, yaitu tertimbunnya atau menempelnya lemak jahat pada dinding dalam pembuluh darah," jelas dr. Susetyo.

Selain kolesterol, faktor genetik seperti familial hypercholesterolemia membuat seseorang memiliki kadar LDL tinggi sejak lahir meski telah menerapkan pola makan sehat.

"Makan sehat pun kadar kolesterol darahnya sudah tinggi. Kenapa? Karena secara genetik memang dia ada abnormalitas, secara genetik dalam hal produksi atau sintesis dan pemecahan dari kolesterol, sehingga kadar kolesterol jahat di dalam darahnya tinggi," tutur dr. Susetyo.

Faktor lain seperti kurangnya aktivitas fisik serta tingginya lemak visceral di area perut (obesitas sentral) juga mendongkrak risiko peradangan pembuluh darah pada orang kurus.

Bahayanya, serangan jantung pada orang kurus acap kali datang mendadak tanpa gejala awal.

"Orang yang mengalami serangan jantung tetapi dia kurus, tidak obesitas, itu sebagian kecil saja yang sebelumnya sudah ada tanda peringatan. Jadi rata-rata orang yang mengalami serangan jantung dengan tanda peringatan sebelum serangan terjadi, rata-rata orang yang gemuk," seru dr. Susetyo.

Oleh karena itu, masyarakat diimbau rutin melakukan pemeriksaan profil lipid secara berkala tanpa hanya mengandalkan bentuk fisik luar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index