JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai bahwa lonjakan nilai transaksi kartu kredit di tengah jumlah kartu yang cenderung stagnan mencerminkan langkah masyarakat yang kian memaksimalkan instrumen tersebut sebagai penopang daya beli dan pengatur keuangan.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyampaikan bahwa peningkatan transaksi ini dipicu oleh kian meluasnya pemanfaatan kartu kredit untuk beragam kebutuhan, mulai dari perjalanan, belanja kebutuhan harian, e-commerce, fesyen, sampai layanan kesehatan.
“Meluasnya penggunaan kartu kredit tersebut didorong fasilitas menarik, antara lain promo, program cicilan bunga 0%, dan paket kerja sama penerbit kartu kredit dengan merchant,” kata Filianingsih kepada Bisnis, dikutip pada Senin (27/7/2026).
Berdasarkan data Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan Indonesia (SPIP), total kartu kredit yang beredar tercatat sebanyak 18,75 juta unit pada April 2026, atau hanya tumbuh tipis 0,37 persen secara tahunan dibanding April 2025 yang sebesar 18,68 juta unit.
Kendati pertumbuhan jumlah kartu bergerak datar, nilai transaksi kartu kredit justru mampu menembus angka Rp41,83 triliun pada April 2026, alias melambung hingga 14,09 persen secara tahunan dari posisi sebelumnya Rp36,66 triliun.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global yang berisiko menekan ekonomi nasional dan daya beli, Filianingsih menjelaskan bahwa masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, mengoptimalkan kartu kredit untuk buffer consumption smoothing serta tata kelola keuangan yang lebih teratur.
Ia melanjutkan bahwa optimalisasi kartu kredit sebagai alat pembayaran ini turut didukung oleh perpanjangan masa relaksasi kebijakan, yakni batas minimal pembayaran sebesar 5 persen dari total tagihan serta besaran denda keterlambatan maksimal 1 persen atau tidak melebihi Rp100.000.
Ke depan, bank sentral melihat kartu kredit masih mengantongi ruang tumbuh yang positif sebagai sarana pembayaran tunda (deferred payment) yang praktis, aman, serta fleksibel.
Menurutnya, instrumen kartu kredit bakal terus melengkapi ekosistem pembayaran nontunai nasional dan bergerak berdampingan dengan sarana lain seperti QRIS, uang elektronik, hingga kartu debit.