Prospek Penjualan Emiten Ritel Terangkat Libur Akhir Tahun 2026

Prospek Penjualan Emiten Ritel Terangkat Libur Akhir Tahun 2026
Ilustrasi Emiten Ritel.

JAKARTA - Sejumlah analis memproyeksikan momentum back to school pada Juli serta periode libur akhir tahun menjadi pemacu utama pertumbuhan same store sales growth (SSSG) bagi jajaran emiten ritel pada semester II-2026.

Equity Analyst BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim menuturkan bahwa sebagian emiten sektor ritel masih mengantongi peluang besar untuk mencetak pertumbuhan SSSG pada paruh kedua tahun ini.

Menurutnya, lonjakan aktivitas belanja konsumen saat memasuki tahun ajaran baru serta periode liburan akhir tahun akan menjadi pendorong utama capaian penjualan.

"Untuk SSSG pada semester II/2026 sebagian retailer bisa terbantu dengan event back to school dan juga libur akhir tahun pada Desember 2026," ujarnya kepada Bisnis dikutip, Senin (27/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa tren kembali ke sekolah bakal memberi keuntungan terbesar bagi emiten yang menguasai porsi penjualan sepatu sekolah dan sepatu olahraga, di mana PT Map Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) berpotensi meraih benefit paling optimal.

Sementara itu, momentum libur akhir tahun diprediksi memberikan dampak lebih meluas pada industri ritel seiring tingginya mobilitas publik yang umumnya diiringi kenaikan tingkat konsumsi.

Di samping itu, BRIDS memprediksi langkah ekspansi pembukaan gerai baru emiten peritel akan bergerak lebih agresif pada semester II-2026, sejalan dengan tren historis tahunan.

Penambahan gerai baru tersebut diyakini menjadi katalis ekstra bagi pertumbuhan pendapatan emiten, selain ditopang pemulihan trafik pengunjung serta konsumsi masyarakat.

BRIDS memperkirakan PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI), MAPA, dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) masih sanggup mengamankan pertumbuhan SSSG hingga pengujung tahun.

Di antara ketiga saham tersebut, BRIDS menempatkan MIDI dan MAPA sebagai saham pilihan utama (top picks) di sektor ritel dengan target harga masing-masing Rp500 dan Rp750.

Christy menjabarkan bahwa MIDI memiliki daya tarik tinggi berkat model bisnis peritel kebutuhan harian yang sifatnya lebih defensif ketika daya beli masyarakat merosot.

Para konsumen cenderung tetap memprioritaskan belanja produk kebutuhan pokok ketimbang memangkas pengeluaran untuk barang-barang yang bersifat diskresioner.

Adapun MAPA dinilai masih menyimpan prospek ekspansi yang solid sekaligus menjadi mesin penopang utama bagi induk usahanya, MAPI.

"Untuk top picks kami di sektor retail ada di MIDI dengan target price Rp500 dan MAPA dengan target price Rp750," katanya.

Meskipun begitu, Christy memberi catatan bahwasanya prospek industri ritel pada semester II-2026 masih dibayangi risiko tekanan daya beli, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian geopolitik global.

Pandangan yang cenderung defensif datang dari Sucor Sekuritas yang memangkas rekomendasi sektor ritel Indonesia menjadi netral akibat kian tingginya tekanan makroekonomi.

Analis Sucor Sekuritas Christofer Kojongian menilai kerapuhan daya beli, lonjakan harga pangan, pelemahan rupiah, pembengkakan biaya impor, serta tingginya suku bunga Bank Indonesia menjadi tantangan berat sektor ritel.

Kondisi ini memaksa konsumen makin selektif dalam berbelanja dengan beralih ke produk yang lebih murah, menunda belanja non-mendesak, serta memangkas alokasi belanja produk non-esensial.

Situasi tersebut berpotensi menekan trafik pengunjung maupun nilai transaksi harian sehingga target pertumbuhan SSSG menjadi kian menantang, meski Sucor tetap merekomendasikan Buy bagi emiten bertipikal defensif.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index