Suku Bunga Tinggi APLN Tetap Bidik Marketing Sales Rp1,5 Triliun

Suku Bunga Tinggi APLN Tetap Bidik Marketing Sales Rp1,5 Triliun
Bukit Podomoro PT Agung Podomoro Land Tbk.

JAKARTA - PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) memutuskan untuk mempertahankan target prapenjualan atau marketing sales di kisaran Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun sepanjang tahun 2026.

Langkah ini diambil di tengah tantangan tingginya tingkat suku bunga acuan atau BI Rate.

Pihak perseroan menilai bahwa permintaan pasar terhadap produk hunian, khususnya dari segmen pembeli untuk tempat tinggal (end-user), masih menunjukkan ketahanan yang solid.

Corporate Secretary APLN Justini Omas menyampaikan bahwa kinerja keuangan perseroan untuk semester I/2026 saat ini masih dalam tahap finalisasi.

Kendati demikian, mengacu pada pencapaian kuartal I/2026, APLN sukses membukukan penjualan dan pendapatan usaha senilai Rp2,9 triliun, melonjak 232 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp874,5 miliar.

“Perseroan masih mempertahankan target marketing sales tahun 2026 di kisaran Rp1,4–1,5 triliun. Target tersebut disusun secara realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar sekaligus sejalan dengan pencapaian marketing sales tahun 2025 yang mencapai sekitar Rp1,4 triliun,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Justini memaparkan bahwa mayoritas pembeli produk residensial perseroan didominasi oleh kalangan end-user, sedangkan porsi selebihnya diisi oleh investor properti.

Permintaan paling kuat tercatat berasal dari segmen rumah kelas menengah, terutama produk milenial home dengan kisaran harga sekitar Rp1 miliar.

Beberapa proyek seperti Podomoro Park Bandung, Parkland Podomoro Karawang, dan Podomoro Golf View menjadi pilihan favorit konsumen karena memiliki akses yang baik, harga kompetitif, serta fasilitas lengkap.

Skema pembelian melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) juga terus mengalami peningkatan hingga menyumbang sekitar 50 persen dari total penjualan pada semester I/2026.

“Angka ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang mencerminkan permintaan end-user yang tetap sehat, didukung tren suku bunga yang lebih kondusif dan cicilan yang semakin terjangkau,” imbuhnya.

Meskipun kenaikan suku bunga tetap menjadi faktor risiko yang diwaspadai, dampaknya terhadap penjualan APLN sejauh ini dinilai masih cukup terbatas.

Guna menjaga tren penjualan hingga akhir tahun, APLN mengoptimalkan program promosi, skema pembayaran yang fleksibel, serta memperkuat kemitraan dengan sektor perbankan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index