Didorong Program Kopdes, Kinerja Emiten Semen SMGR & INTP Naik

Didorong Program Kopdes, Kinerja Emiten Semen SMGR & INTP Naik
PT Timah Fokus Garap Proyek Logam Tanah Jarang Tanjung Ular [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Timah (Persero) Tbk. (TINS) terus mematangkan proyek logam tanah jarang (LTJ) di Tanjung Ular, Bangka Belitung yang disiapkan oleh perusahaan.

Direktur Strategi Korporasi & Pengembangan Usaha PT Timah Harry Budi Sidharta menyebut, perseroan tengah fokus pada pemetaan potensi sumber daya sebelum menentukan skala investasi dan menggandeng investor.

Harry menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan lahan seluas sekitar 40 hektare untuk proyek tersebut. Dia menuturkan, pengembangan proyek tersebut dilakukan bersama Badan Industri Mineral (BIM) dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Persero) atau Perminas.

Menurutnya, tahapan awal proyek telah memasuki survei lapangan untuk mengidentifikasi potensi sumber daya logam tanah jarang di kawasan Tanjung Ular.

"Kami bersama-sama untuk pengembangan dari Tanjung Ular. Kemarin kami sudah mulai survei lapangan dan melihat potensi sumber daya, lebih tepatnya sumber daya di tanah jarang ini," ujarnya saat ditemui pada acara Seminar Nasional Masa Depan Timah di Indonesia: Tata Kelola dan Hilirisasi di Jakarta pada Rabu (29/7/2026).

Harry menjelaskan, hasil pengumpulan data tersebut akan menjadi dasar bagi perseroan untuk menghitung kelayakan investasi, termasuk kapasitas produksi yang memungkinkan dikembangkan serta skema kerja sama dengan calon investor.

Perseroan juga masih menghitung berbagai aspek investasi sebelum mengambil keputusan pengembangan proyek.

"Seberapa jauh nanti investasi ini bisa berjalan, artinya kapasitas berapa, kemudian berapa nanti istilahnya take and give dengan investor, ini lagi sedang kami perhitungkan," katanya.

Pada saat yang sama, dia juga mengungkap para calon investor telah mulai melakukan kajian awal di kawasan Tanjung Ular dengan fokus mengumpulkan data terkait potensi sumber daya sebagai bagian dari proses studi proyek.

Meski demikian, Harry tidak memerinci jumlah ataupun asal negara calon-calon investor tersebut.

Sebelumnya, Badan Industri Mineral (BIM) mengungkapkan Indonesia berpotensi memperoleh nilai pasar dari hilirisasi LTJ sebesar US$7,42 miliar atau setara Rp124,76 triliun (asumsi kurs Rp16.815 per US$) pada 2030.

Hal itu disampaikan Kepala BIM Brian Yuliarto dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

Brian menyebut, nilai pasar hilirisasi LTJ secara global mencapai US$95 miliar, dan Indonesia berpotensi menguasai 1%–5% dari nilai pasar global tersebut. Dengan kata lain, potensi nilai pasar LTJ Indonesia mencapai sekitar US$4 miliar.

“Kami mencoba menganalisis pasar atau potensi yang dapat Indonesia mainkan di kisaran 1%–5% industri dunia,” ujar Brian.

Namun, dia menambahkan, potensi nilai pasar untuk Indonesia bisa lebih besar. Sebab, LTJ terkait dengan mineral ikutan lain seperti besi (Fe), titanium (Ti), aluminium (Al), hingga silika (Si).

Pemanfaatan mineral ikutan tersebut melalui hilirisasi diperkirakan bisa menghasilkan nilai pasar tambahan US$3,42 miliar. Dengan demikian, total potensi nilai pasar hilirisasi LTJ yang dapat diraup Indonesia mencapai US$7,42 miliar.

“LTJ berikat dengan mineral lainnya, dan mineral tersebut juga bisa dimanfaatkan melalui hilirisasi sehingga total potensi yang bisa dimanfaatkan Indonesia mencapai US$7,42 miliar,” jelas Brian.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index