JAKARTA - Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) berhasil menduduki peringkat kedua tertinggi di kawasan Asia di bawah Temasek dalam penilaian tata kelola Sovereign Wealth Fund (SWF).
Ketua Dewan Direktur INA Oki Ramadhana mengungkapkan bahwa perseroan sukses meraih skor 92 persen dalam publikasi laporan Governance, Sustainability, and Resilience (GSR).
Penilaian independen tersebut menguji 200 lembaga SWF dari penjuru dunia berdasarkan 25 kriteria utama, mencakup aspek tata kelola, tingkat keterbukaan, hingga kedisiplinan berinvestasi.
“Kami mungkin nomor dua, dan mereka me-review sekitar 200 SWF secara global dan kami hanya di bawah Temasek. Jadi ini pencapaian yang menurut saya luar biasa,” ujar Oki.
Oki menilai raihan rekam jejak tata kelola yang solid menjadi magnet utama penarik arus modal, khususnya di tengah situasi ketidakpastian geopolitik dan dinamika ekonomi dalam negeri.
“Mandat kami di INA adalah mendatangkan investasi domestik maupun asing. Sangat penting bagi mitra untuk berpartner dengan institusi yang kredibilitas dan reputasinya sangat tinggi dari perspektif GSR,” ucap Oki.
Oki mengutarakan bahwa kapasitas sebuah SWF tidak hanya diukur berdasarkan besaran dana kelolaan (assets under management/AUM) ataupun besarnya portofolio penanaman modal semata.
Lebih dari itu, tingkat keberhasilan SWF sangat ditentukan oleh konsistensi penerpan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang bersih dan akuntabel.
Torehan prestasi ini, menurut Oki, lahir dari landasan institusional yang tangguh yang telah dirancang oleh jajaran dewan direktur terdahulu beserta seluruh jajaran tim INA.
Berbekal reputasi tata kelola berstandar internasional ini, INA optimistis sanggup meneruskan perannya sebagai akselerator investasi yang memandu pemodal global mengeksplorasi peluang di Indonesia.