Tiga Negara Sepakati Pertukaran Intelijen Cegah Kejahatan Lintas Negara

Tiga Negara Sepakati Pertukaran Intelijen Cegah Kejahatan Lintas Negara
Trilateral Meeting antara Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, Australian Federal Police (AFP), dan Policia Nacional de Timor-Leste (PNTL) yang berlangsung di Polres Belu, Nusa Tenggara Timur.

JAKARTA - Negara Indonesia bersama Australia dan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) menyepakati penguatan mekanisme pertukaran informasi intelijen sebagai langkah strategis dalam mencegah serta menindak berbagai bentuk kejahatan transnasional yang memanfaatkan kawasan perbatasan sebagai rute operasi.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra di Kupang, Selasa, menyampaikan bahwa pihak Polda NTT siap menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut melalui jajaran kewilayahan, agar kesepakatan yang telah dicapai dapat diwujudkan dalam langkah operasional yang terukur.

"Kapolda NTT menegaskan sinergi antara Polri, AFP, dan PNTL harus terus diperkuat melalui komunikasi yang intensif, pertukaran informasi yang cepat, serta koordinasi yang efektif agar setiap potensi ancaman kejahatan transnasional dapat dideteksi dan ditangani sejak dini," kata Henry.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam Trilateral Meeting antara Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri, Australian Federal Police (AFP), serta Policia Nacional de Timor-Leste (PNTL) yang bertempat di Polres Belu, Nusa Tenggara Timur.

Dalam forum tersebut, ketiga negara berharap kesepakatan ini semakin memperkokoh sistem respons bersama untuk memberantas kejahatan transnasional, sekaligus menjaga stabilitas keamanan di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste dan rute menuju Australia.

Penerjemah Madya Divhubinter Polri Kombes Pol. Juara Silalahi dalam keterangan yang diterima di Kupang, Selasa, menyebutkan bahwa ancaman kejahatan transnasional tidak mengenal batas negara sehingga membutuhkan respons bersama melalui kerja sama yang lebih erat.

"Pertemuan trilateral ini merupakan wujud nyata komitmen kami untuk tidak bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman yang tidak mengenal batas negara," ujarnya.

Melalui forum ini, ia berharap dapat terbangun mekanisme pertukaran informasi intelijen yang lebih cepat, akurat, dan aman, sehingga berbagai potensi ancaman dapat dicegah sejak dini.

Ia juga menyampaikan bahwa seluruh hasil pembahasan akan menjadi bagian dari penguatan kerja sama kepolisian lintas negara, termasuk mempercepat pertukaran informasi di lapangan yang menjadi kunci utama pencegahan kejahatan transnasional.

Menurutnya, kawasan perbatasan Indonesia-Timor Leste yang berdekatan dengan Australia mempunyai posisi strategis, sehingga memerlukan pengawasan secara bersama terhadap aktivitas jaringan kriminal internasional.

Federal Agent AFP Dili Sarah Hammond menyatakan bahwa Indonesia, Timor Leste, dan Australia menghadapi tantangan keamanan yang saling terhubung akibat kedekatan geografis ketiga negara.

"Kami melihat jaringan kejahatan masih memanfaatkan jalur laut dan darat di kawasan ini sebagai rute transit. Ancaman tersebut tidak dapat ditangani oleh satu negara saja, sehingga pertukaran informasi dan kerja sama trilateral menjadi sangat penting," ujarnya.

Pihak AFP berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi bersama Polri dan PNTL dalam penanganan penyelundupan manusia, perdagangan orang, peredaran gelap narkotika, hingga penyelundupan bahan kimia ilegal.

Senada dengan hal itu, Chief Superintendent Border Police Unit PNTL Calisto Gonzaga menyampaikan bahwa penguatan pertukaran informasi intelijen perlu diiringi dengan peningkatan patroli bersama, operasi gabungan, serta pengembangan kapasitas personel guna mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan lintas negara.

Dalam sesi diskusi, ketiga delegasi turut membahas beragam isu aktual di wilayah perbatasan, mulai dari penyelundupan orang dan barang, perdagangan orang, pencurian ternak, pencurian kendaraan bermotor, sampai pelintas batas ilegal yang masih memanfaatkan jalur laut dan rute tidak resmi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index