JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kuantitas tenaga kerja berstatus informal di Indonesia mencatatkan penurunan tipis hingga periode Mei 2026.
“Proporsi pekerja informal per Mei 2026 mengalami penurunan tipis dibandingkan dengan Februari 2026, menjadi sekitar 59,30 persen dari total penduduk yang bekerja,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Lebih lanjut, Edy menjelaskan bahwa persentase sebesar 59,30 persen tersebut merepresentasikan total sebanyak 87,88 juta jiwa yang menggantungkan penghidupannya pada sektor pekerjaan informal.
Sementara itu, pada pencatatan bulan Februari 2026 lalu, porsi pekerja informal di tanah air berada di angka 59,42 persen dari keseluruhan penduduk yang bekerja atau setara dengan 87,74 juta orang.
Berdasarkan definisi yang dipegang oleh BPS, kelompok pekerja informal mencakup kategori orang yang berusaha sendiri, pengusaha yang memanfaatkan tenaga buruh tidak tetap atau pekerja keluarga yang tidak dibayar, pekerja bebas, serta para pekerja keluarga yang tidak mendapatkan upah.
Di sisi lain, pada bulan Mei 2026, BPS memaparkan bahwa dari total 148,19 juta jiwa penduduk yang aktif bekerja, sebanyak 37,09 persen di antaranya berstatus sebagai buruh, karyawan, ataupun pegawai.
“Dibandingkan dengan Februari 2026, penduduk bekerja berstatus pengusaha sendiri mengalami penambahan terbanyak, yaitu sebesar 1,38 juta orang,” kata Edy.
Ia melanjutkan, jumlah penduduk yang bekerja pada kegiatan formal mengalami dari 59,93 juta orang menjadi 60,31 juta orang, utamanya didorong oleh meningkatnya buruh/karyawan/pegawai.
Di samping itu, apabila diklasifikasikan berdasarkan struktur tingkat pendidikan formal penduduk yang bekerja, tercatat sebanyak 13,18 persen dari total 148,19 juta penduduk bekerja telah mengenyam pendidikan setingkat diploma hingga jenjang yang lebih tinggi per Mei 2026.
“Jika dibandingkan Februari 2026, proporsi pekerja berpendidikan SMA, SMK, dan diploma ke atas mengalami peningkatan,” ujar Edy.
Secara lebih rinci, kelompok pekerja yang memiliki latar belakang pendidikan Diploma IV, S1, S2, serta S3 berjumlah sebanyak 15,93 juta orang atau mencakup porsi 10,75 persen.
Selanjutnya, tenaga kerja dengan tingkat pendidikan Diploma I/II/III tercatat sebanyak 3,59 juta orang (2,42 persen); sementara itu untuk angkatan kerja yang menamatkan pendidikan di jenjang SMK dan SMA masing-masing menduduki angka sebanyak 19,44 juta orang (13,12 persen) serta 30,71 juta orang (20,72 persen).
Kendati demikian, data statistik tetap menunjukkan bahwa porsi kelompok tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah masih memegang dominasi terbesar dalam struktur ketenagakerjaan penduduk yang bekerja di Indonesia, yakni mencapai kisaran 35,40 persen atau setara dengan 52,46 juta orang.
"Pada Mei 2026, sebesar 13,18 persen dari 148,19 juta penduduk yang bekerja memiliki pendidikan diploma ke atas. Sementara itu, 35,40 persen penduduk yang bekerja memiliki pendidikan SD ke bawah dan masih mendominasi struktur penduduk bekerja di Indonesia," kata Edy.