JAKARTA - Perbedaan pendapat atau rasa kecewa terhadap pasangan merupakan hal yang wajar terjadi dalam suatu hubungan. Ada kalanya ketika emosi sedang tinggi, seseorang bisa mengucapkan kalimat yang justru membuat pasangannya merasa tidak dicintai. Perkataan yang terlontar saat bertengkar juga tidak selalu mudah dilupakan.
Menurut psikolog hubungan, ada sejumlah kalimat yang sebaiknya dihindari karena dapat membuat pasangan merasa harus terus membuktikan cintanya. Disadur dari Parade, psikolog klinis Dr. Noel Hunter dan Dr. Noosha Niv mengungkap beberapa ungkapan yang dapat berdampak buruk terhadap hubungan.
Salah satu kalimat yang dianggap bermasalah adalah ketika seseorang mengaitkan rasa cinta dengan tindakan yang dilakukan pasangannya. Misalnya, “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan...” Kalimat tersebut dapat muncul ketika seseorang merasa kecewa karena pasangan melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan.
Niv menilai ungkapan seperti ini dapat bermasalah dalam hubungan karena membuat pasangan berada dalam posisi untuk gagal. Ia juga menjelaskan bahwa seseorang tidak selalu dapat mengetahui keinginan dan kebutuhan pasangannya tanpa dikomunikasikan.
“Harapan bahwa seseorang dapat membaca pikiran Anda dan mengetahui keinginan serta kebutuhan Anda jarang berakhir dengan baik,” jelas Niv. Hunter menambahkan, ucapan semacam itu secara tidak sengaja dapat membuat pasangan terus menerus merasa harus membuktikan cintanya.
Keinginan untuk dipahami pasangan memang wajar. Namun, berharap pasangan dapat mengetahui kebutuhan tanpa pernah diberi tahu justru bisa memicu kesalahpahaman. Kalimat seperti, “Aku seharusnya tidak perlu memberitahumu apa yang kubutuhkan, kamu seharusnya tahu,” termasuk ungkapan yang disarankan untuk dihindari.
“Ya, kamu memang harus mengatakannya,” ujar Hunter. Ia menegaskan tidak ada orang yang dapat membaca pikiran orang lain, begitupun sebaliknya, mereka juga tidak seharusnya diharapkan untuk melakukan hal tersebut.
Menurut Hunter, hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi dan kompromi. Menguji pasangan untuk melihat apakah mereka dapat menebak kebutuhan dengan tepat justru dapat membawa hubungan menuju masalah yang lebih besar.
Saat kesal, seseorang juga dapat menggunakan kata-kata seperti “Kamu tuh selalu begitu” atau “Kamu tidak pernah mengerti aku.” Sekilas, kalimat tersebut mungkin hanya menjadi bentuk pelampiasan, tetapi dapat membuat pembicaraan berubah menjadi kritik terhadap pasangan.
“Kalimat-kalimat ini pada akhirnya mengarah pada kritik, yang merupakan salah satu faktor utama kegagalan hubungan,” kata Niv. “Jika tujuan Anda adalah berkomunikasi dan benar-benar didengarkan, memulai percakapan dengan kritik tidak akan membawa Anda ke sana,” imbuhnya.
Sebab itu, membahas perilaku atau kejadian tertentu secara spesifik dapat membantu pasangan memahami masalah tanpa merasa seluruh dirinya sedang disalahkan.
Ketika pasangan mengalami masalah kesehatan mental, seseorang mungkin merasa perlu mendorongnya untuk mencari bantuan. Namun, cara menyampaikannya juga perlu diperhatikan. Kalimat seperti, “Kenapa kamu tidak mencari bantuan saja?” atau “Kamu perlu bicara dengan seseorang,” dapat menjadi tekanan jika disampaikan berulang kali.
“Mereka yang memiliki pasangan yang sedang mengalami gejala kesehatan mental, seperti depresi, sering kali memohon, membujuk, atau bahkan memberikan ultimatum agar pasangannya mencari bantuan,” tutur Niv. Namun, Ia mengatakan pendekatan tersebut dapat berbalik menjadi masalah.
“Penelitian selama beberapa dekade mengenai perubahan perilaku menunjukkan bahwa semakin kami mencoba meyakinkan seseorang untuk melakukan sesuatu yang masih mereka ragukan, semakin kecil kemungkinan mereka melakukannya,” jelas Niv.
Pada akhirnya, komunikasi dalam hubungan bukan hanya soal menyampaikan apa yang dirasakan, melainkan juga bagaimana cara menyampaikannya. Menghindari ungkapan yang membuat pasangan merasa disalahkan atau diuji dapat membantu menciptakan ruang komunikasi yang lebih terbuka dan saling memahami.