Calon Deputi Gubernur Senior BI Paparkan Bauran Kebijakan dan Likuiditas

Calon Deputi Gubernur Senior BI Paparkan Bauran Kebijakan dan Likuiditas
Calon tunggal Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman.

JAKARTA - Calon tunggal Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menyampaikan bahwa kebijakan suku bunga bank sentral ke depan perlu menyesuaikan dengan perkembangan ekonomi global sekaligus menstabilkan rupiah.

Dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR, Aida mengklaim bahwa bauran kebijakan BI yang mencakup moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran saat ini sudah baik dan akan dilanjutkan jika terpilih.

Kendati demikian, ia tidak memungkiri bahwa tekanan depresiasi rupiah selama tiga bulan terakhir masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian nasional.

Oleh karena itu, BI memberikan respons yang kerap bersifat kompromi atau penyesuaian (trade-off) antara satu instrumen kebijakan dan kebijakan lainnya.

Salah satu bentuk langkah tersebut yakni menerapkan kebijakan pro-stabilitas dengan menetapkan suku bunga tinggi guna mengimbangi tren higher for longer di tingkat global.

Penetapan suku bunga tinggi ini juga ditujukan untuk mencegah keluarnya modal asing (outflow) dengan cara menjaga selisih imbal hasil tetap menarik.

"Jadi, respons kebijakan BI rate itu tetap harus dilakukan untuk meng-adress yang higher for longer tadi. Kalau tidak, kami tidak punya perbedaan yield antara rupiah dan kemudian valas, yang menjadi bagaimana menarik capital inflow," terangnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

Sejak beberapa bulan lalu, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) sebelum akhirnya menahannya di level 5,75 persen pada RDG Agustus 2026.

Aida menegaskan perlunya dorongan bauran kebijakan yang seimbang agar dampak pengetatan suku bunga tidak menekan penyaluran kredit domestik secara berlebihan.

Pada area itulah instrumen makroprudensial mengambil peran, seperti skema Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang siap berlaku efektif pada 1 September 2026.

"KLM yang tadinya hanya untuk bank yang memberikan kredit kepada sektor prioritas sebesar 5,5%, kami tambah menjadi 6% persen, dikembalikan GWM tadi. Tetapi kami ubah, kalau dia untuk kredit sektor prioritas tetap dikasih 4%, hanya kalau bank-bank tadi hanya mengekepi surat berharganya saja, tidak diapa-apain, dia tidak boleh lagi dapat insentif 2% dari GWM," tuturnya.

Dalam pemaparan visi-misinya, Aida berkomitmen mendorong BI agar tetap menjadi bank sentral terbaik di antara negara-negara berkembang (emerging economies) sekaligus berkontribusi positif bagi ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index