JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat (11/9/2026) usai ditutup terkoreksi 1,33 persen ke level 6.589,34 pada hari sebelumnya.
Tim riset Phintraco Sekuritas memaparkan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia serta pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor penekan utama bursa saham domestik.
"Penguatan harga minyak dan pelemahan Rupiah menjadi faktor negatif bagi IHSG," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (10/9/2026).
Indikator teknikal juga menunjukkan potensi koreksi lanjutan, di mana IHSG diperkirakan menguji level support 6.525 hingga rentang 6.460–6.500 jika tekanan berlanjut.
Lonjakan harga minyak jenis Brent yang menembus US$102 per barel akibat konflik AS-Iran diprediksi memperberat defisit APBN dan memicu inflasi nasional.
Di sisi lain, pergerakan mata uang rupiah terkoreksi 0,2 persen menuju posisi Rp17.547 per dolar AS yang menambah kehati-hatian para pelaku pasar.
Sentimen global turut dibayangi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa (ECB) serta proyeksi kenaikan indeks harga produsen.
Saat pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026) pukul 09.01 WIB, IHSG langsung anjlok 1,19 persen atau 78,29 poin ke level 6.511,04.
Tekanan IHSG kian membengkak pada penutupan Sesi I pukul 12.08 WIB dengan penurunan sebesar 1,49 persen ke posisi 6.490,91.