PORTALENERGI.ID — Pemerintah China meminta perusahaan tambang batu bara mempercepat produksi dan membuka kembali tambang yang sempat tutup, setelah harga spot batu bara melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Desakan ini muncul lewat pemberitahuan bersama tiga lembaga negara, menyusul inspeksi keselamatan besar-besaran usai kecelakaan fatal di Shanxi pada Mei lalu.
Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), Administrasi Energi Nasional (NEA), dan Administrasi Keselamatan Tambang Nasional mengeluarkan pemberitahuan bersama belum lama ini. Isinya meminta daerah dan perusahaan penghasil batu bara mempercepat langkah menjaga stabilitas produksi.
Pemerintah juga mendorong pembukaan kembali tambang-tambang yang sempat berhenti beroperasi. Tujuannya menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan pasokan energi tetap aman.
Harga Spot Cetak Rekor Tiga Tahun
Lonjakan harga spot batu bara menjadi pemicu utama kebijakan ini. Harganya kini berada di level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Batu bara jenis ini dipakai sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Kenaikan harga membuat biaya energi China berpotensi naik jika pasokan tidak segera ditambah.
NDRC, NEA, dan Administrasi Keselamatan Tambang menekankan percepatan produksi harus tetap memperhatikan aspek keselamatan. Pemberitahuan itu disampaikan NEA melalui unggahan di akun WeChat resminya.
Inspeksi Usai Kecelakaan di Shanxi
Produksi batu bara China sempat turun setelah kecelakaan fatal di Provinsi Shanxi pada Mei. Insiden itu memicu serangkaian inspeksi keselamatan di sejumlah wilayah tambang.
Inspeksi membuat banyak tambang mengurangi aktivitas atau berhenti sementara. Akibatnya pasokan berkurang dan harga spot terdorong naik.
Shanxi sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung batu bara utama China. Gangguan produksi di sana berdampak besar ke pasokan nasional.
Dampak ke Industri dan Harga Listrik
Batu bara masih menjadi tulang punggung pembangkit listrik China. Kenaikan harga bahan bakar ini bisa merembet ke biaya produksi industri manufaktur.
Jika pasokan tidak kembali normal, pemerintah berisiko menghadapi tekanan inflasi energi. Pembangkit listrik juga bisa kesulitan menekan biaya operasional.
Desakan percepatan produksi menjadi cara China menyeimbangkan kebutuhan pasokan energi dengan pertumbuhan ekonomi yang sedang mereka dorong.
Bagi pasar global, kebijakan China ini layak dicermati. Negara itu adalah konsumen dan produsen batu bara terbesar dunia, sehingga pergerakan produksinya memengaruhi harga di pasar internasional.