ESDM Tunjuk Nations Petroleum Garap Blok Natuna D-Alpha, Komitmen USD 103 Juta

ESDM Tunjuk Nations Petroleum Garap Blok Natuna D-Alpha, Komitmen USD 103 Juta

PORTALENERGI.ID — Kementerian ESDM menetapkan PT Nations Petroleum sebagai pemenang lelang Blok Natuna D-Alpha dengan komitmen pasti eksplorasi tiga tahun pertama mencapai USD 103,309 juta. Perusahaan itu bagian dari Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto. Blok gas raksasa di Kepulauan Riau ini sebelumnya mangkrak puluhan tahun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral resmi menunjuk PT Nations Petroleum sebagai operator Blok Natuna D-Alpha. Penetapan itu menutup lelang wilayah kerja yang selama bertahun-tahun tidak tergarap.

Nations Petroleum merupakan perusahaan swasta di sektor minyak dan gas bumi yang terafiliasi dengan Arsari Group, kelompok usaha milik Hashim Djojohadikusumo. Hashim adalah adik kandung Presiden Prabowo Subianto.

Nilai Komitmen dan Bonus Tanda Tangan

Dalam pengumuman resminya, Kementerian ESDM menyebut pemenang lelang menyetor bonus tanda tangan sebesar US$200.000. Angka itu terpisah dari komitmen investasi eksplorasi.

Total komitmen pasti untuk tiga tahun pertama masa eksplorasi mencapai US$103,309 juta. Nilai itu mengikat perusahaan untuk menjalankan sejumlah program kerja, bukan sekadar janji di atas kertas.

Rinciannya meliputi tiga paket kajian geologi dan geofisika (G&G Study), akuisisi dan pengolahan data seismik 3D seluas 591 km², serta satu Pilot Unit Design and Engineering. Ada pula tiga paket CO2 Integrated Study dan satu paket Manufacturing, Procurement and Construction.

Komitmen lainnya mencakup dua paket EPC Design Cost, satu sumur appraisal, satu sumur eksplorasi, dan satu paket Operation, Multi-Mode Testing and Monitoring. Semua item itu tertuang dalam dokumen pengumuman Kementerian ESDM.

Potensi Gas 222 TCF dan Tantangan CO2

Blok Natuna D-Alpha berada di Pulau Natuna, Kepulauan Riau. Wilayah kerja ini menyimpan potensi gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF) dan disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.

Namun kandungan karbondioksida (CO2) di lapangan tersebut tergolong tinggi. Kondisi itu membuat gas yang benar-benar bisa dieksploitasi diperkirakan hanya sekitar 46 TCF.

Tingginya CO2 menjadi alasan teknis mengapa blok ini lama tidak dilirik investor. Teknologi pemisahan dan penyerapan karbon jadi kunci agar gasnya layak dikomersialkan.

Mengapa Blok Ini Lama Mangkrak

Natuna D-Alpha sudah lama masuk daftar wilayah kerja yang belum tuntas digarap. Kandungan CO2 yang tinggi membuat biaya pengembangan membengkak dan keekonomian proyek sulit dihitung.

Masuknya Nations Petroleum membawa konsekuensi langsung: perusahaan wajib menuntaskan studi karbon sejak fase eksplorasi. Tiga paket CO2 Integrated Study yang masuk komitmen menunjukkan pemerintah ingin persoalan itu diselesaikan lebih awal.

Bagi industri migas nasional, kepastian operator di Natuna D-Alpha menjadi sinyal bahwa wilayah kerja berisiko tinggi tetap dibuka. Pemerintah berharap ada aliran investasi baru ke sektor hulu migas.

Yang perlu dicermati publik adalah realisasi komitmen tersebut. Sejumlah blok di Indonesia punya rekam jejak komitmen eksplorasi yang tidak dijalankan penuh, sehingga pengawasan pemerintah menjadi penentu.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index