Waktu Terbaik untuk Olahraga Pagi Menurut Dokter Demi Mengecilkan Perut

Senin, 20 Juli 2026 | 05:21:02 WIB
Ilustrasi Jogging.

JAKARTA - Perut buncit sering kali menjadi bagian tubuh yang paling sulit dikecilkan, meskipun seseorang sudah rutin berolahraga. Namun, seorang dokter mengungkapkan bahwa bukan hanya jenis latihan yang berpengaruh, tetapi juga waktu pelaksanaan dan pola makan setelahnya.

Dokter Danielle Kelvas menjelaskan bahwa olahraga pada pagi hari berpotensi memberikan hasil lebih baik untuk membantu menurunkan berat badan dan mengurangi lemak di area perut. Meski begitu, ia menegaskan bahwa olahraga kapan pun tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga pada pagi hari dapat membantu menurunkan indeks massa tubuh (BMI) karena mampu mengaktifkan metabolisme sejak awal hari. Kelvas secara khusus merekomendasikan aktivitas fisik pada pukul 07.00 hingga 09.00 pagi.

Waktu tersebut dikaitkan dengan penurunan berat badan yang lebih besar dibandingkan jadwal lainnya. "Penelitian menunjukkan bahwa berolahraga di pagi hari merupakan waktu yang optimal untuk menurunkan BMI karena membantu memulai metabolisme," jelas Kelvas.

Ia tetap mengingatkan bahwa manfaat terbesar datang dari konsistensi. "Olahraga kapan pun tetap lebih baik daripada tidak berolahraga sama sekali," ujarnya.

Kelvas menambahkan bahwa manfaat olahraga pagi akan semakin optimal jika diikuti dengan pilihan sarapan yang tepat. Makanan dan minuman tinggi gula seperti muffin, pancake, jus, atau kopi manis sebaiknya dihindari setelah berolahraga.

Sebagai gantinya, makanan tinggi protein tanpa lemak lebih direkomendasikan. Telur menjadi salah satu pilihan tepat, kecuali bagi mereka yang sedang berupaya menurunkan kadar kolesterol. Bakon atau sosis tanpa nitrat juga dinilai lebih baik daripada makanan tinggi gula.

Bagi yang ingin tetap mengonsumsi karbohidrat, Kelvas menyarankan steel-cut oats dibandingkan oatmeal instan bergula. Pilihan lainnya adalah yoghurt tanpa pemanis yang dipadukan dengan sedikit madu atau buah segar.

Kelvas juga membagikan kebiasaan pribadinya menjalani intermittent fasting dengan puasa sekitar 16 jam dari malam hingga pagi hari. Ia mengonsumsi minuman probiotik seperti kombucha dan Japanese koso saat perut kosong serta membatasi kopi maksimal dua cangkir sehari. Minuman probiotik saat perut kosong dinilai membantu menjaga kesehatan usus selama proses penurunan berat badan.

Sementara itu, dr. Farrell mengingatkan agar tidak hanya terpaku pada angka di timbangan. Penurunan massa otot secara bertahap dapat membuat tubuh membakar lebih sedikit kalori setiap hari, meskipun pola makan tidak berubah.

Perubahan nafsu makan sepanjang hari juga dapat membuat seseorang tidak menyadari peningkatan asupan kalori atau kurangnya protein. Karena itu, komposisi tubuh dan pola makan sehari-hari memberikan gambaran lebih akurat dibandingkan sekadar memantau timbangan.

Waktu olahraga memang menjadi faktor pendukung untuk mengurangi lemak perut, namun hasilnya tetap bergantung pada kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

Terkini