Sebanyak 271 Koperasi Merah Putih di Kepri Kantongi Lahan

Kamis, 23 Juli 2026 | 22:20:31 WIB
Koperasi Merah Putih di Kepri: 271 Lahan Siap, 25 Gerai Rampung [FOTO: NET].

JAKARTA - Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melaporkan bahwa proses pembangunan fasilitas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di seluruh kawasan tersebut terus menunjukkan progres. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 271 koperasi yang mengantongi lahan serta 25 gerai fisik yang tuntas dibangun.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kepri Riki Rionaldi menyebutkan bahwa saat ini terdapat 407 unit Koperasi Merah Putih yang telah resmi terbentuk tersebar di berbagai kabupaten dan kota di wilayah Kepulauan Riau.

"Dari total 407 koperasi, sebanyak 271 koperasi sudah memiliki lahan, sedangkan 136 koperasi masih dalam proses penyediaan lahan," kata Riki, Kamis.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa jika ditinjau dari aspek konstruksi fisik, sebanyak 25 gerai koperasi telah merampungkan pengerjaan hingga mencapai progres 100 persen. Sementara itu, ada 124 gerai lain yang masih berada dalam fase pengerjaan pembangunan, serta 258 koperasi sisanya belum melaksanakan pembangunan gerai fisik.

Menurut pemaparan Riki, gerai-gerai koperasi yang bangunannya telah rampung tersebut belum sepenuhnya dapat beroperasi lantaran masih menunggu tuntasnya penyiapan fasilitas pendukung serta kejelasan mekanisme operasional resmi dari pemerintah. 

Sejumlah sarana penunjang yang saat ini sedang dipersiapkan di antaranya meliputi rak barang dagangan, mesin kasir, perangkat kamera pengawas (CCTV), unit kendaraan operasional, hingga sistem distribusi logistik barang.

Riki menyatakan bahwa pihak pemerintah menetapkan target agar gerai-gerai tersebut dapat segera beroperasi secara bertahap seiring rampungnya proses serah terima seluruh kelengkapan fasilitas. Di sisi lain, instansi Dinas Koperasi Kepri juga turut melakukan evaluasi terhadap eksistensi koperasi swadaya yang telah lebih dulu beroperasi sebelum dimulainya penerapan skema nasional.

BACA JUGA Baru Beroperasi 5 Bulan, Kopdes Merah Putih di Batam Tutup Bapanas Salurkan Beras SPHP Lewat Kopdes Merah Putih, Realisasi 9,44 Juta Kg Penyaluran Bansos Lewat Kopdes Merah Putih Bakal Diatur Perpres

Ia mengungkapkan bahwa terdapat dua koperasi swadaya, yakni yang berlokasi di Pulau Buluh Kota Batam serta Kelurahan Kijang Kota Kabupaten Bintan, untuk sementara waktu terpaksa menghentikan aktivitas operasionalnya. 

Menurut penjelasan dia, keputusan penghentian kegiatan tersebut bukan dipicu oleh rendahnya tingkat kebutuhan masyarakat setempat, melainkan karena model bisnis yang diterapkan belum sanggup menutupi besaran biaya operasional harian.

"Koperasi-koperasi itu dibangun dengan semangat gotong royong masyarakat. Namun, karena belum masuk dalam skema yang sekarang, margin usahanya masih tipis sehingga operasional belum berjalan optimal," ujarnya.

Riki menambahkan bahwa kini pihak pemerintah tengah menggalakkan upaya penguatan ekosistem bisnis Koperasi Merah Putih melalui pemberian sokongan dari koperasi sekunder, pemantapan rantai pasok (supply chain), serta integrasi dengan beragam program pemerintah agar setiap koperasi mempunyai sumber pemasukan yang lebih berkesinambungan.

Ia menaruh rasa optimis tinggi bahwa kehadiran Koperasi Merah Putih bakal bertumbuh semakin pesat manakala seluruh gerai tuntas dibangun serta disokong oleh ekosistem niaga yang terpadu.

Satu Koperasi Merah Putih di Batam Tutup Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Batam membongkar faktor utama di balik berhentinya operasional Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Pulau Buluh, yang tercatat sebagai koperasi perdana di Kota Batam yang diresmikan pada September 2025 silam.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Batam, Salim, mengutarakan bahwa sejak awal pendiriannya koperasi tersebut memiliki sebanyak 49 orang anggota serta mengelola tiga unit lini usaha, yakni gerai sembako, pangkalan resmi LPG 3 kilogram, serta keagenan BRILink.

 Kendati demikian, keberlangsungan operasional koperasi tersebut gagal dipertahankan akibat pihak pengelola mengalami kendala berat dalam menjalankan seluruh beban aktivitas koperasi seorang diri.

"Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Sekretaris KKMP Pulau Buluh, Pak Firman, pengurus tersebut kewalahan mengurus koperasi sendirian tanpa didampingi pengurus lainnya yang sibuk dengan urusan masing-masing," kata Salim.

Sebagai dampak dari situasi pelik tersebut, sambungnya, pihak koperasi sudah tidak sanggup lagi menjaga stabilitas kegiatan usahanya hingga akhirnya memutuskan untuk menghentikan operasional sejak bulan Desember 2025.

"Sehingga pada bulan Desember 2025, KKMP Pulau Buluh tidak mampu mempertahankan operasional dan menghentikan kegiatan usahanya," ujarnya.

Pemerintah Kota Batam menegaskan komitmennya untuk segera melaksanakan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan koperasi agar insiden serupa tidak terulang kembali pada unit Koperasi Merah Putih lainnya di wilayah Batam.

Sebelumnya, bangunan fisik Koperasi Merah Putih pertama di Kota Batam yang bertempat di Pulau Buluh Kecamatan Bulang tersebut tampak terbengkalai tanpa aktivitas setelah kegiatan usahanya berhenti beroperasi sejak sekitar Juni 2026. 

Unit usaha yang diresmikan pada September 2025 itu tercatat hanya mampu bertahan selama kurang lebih lima bulan beroperasi. Terhentinya aktivitas usaha tersebut disinyalir kuat diakibatkan oleh masa sewa lokasi yang telah kedaluwarsa serta berbagai persoalan operasional.

Salah seorang warga setempat di Pulau Buluh, Alimatusyadiah, menuturkan bahwa dulunya koperasi tersebut sempat menjadi destinasi belanja favorit warga karena menawarkan harga produk kebutuhan pokok yang jauh lebih miring jika dikomparasikan dengan warung-warung di sekitarnya.

"Sebelumnya banyak yang beli karena selisih harganya lumayan. Tapi sekarang sudah tutup," katanya, Rabu.

Berdasarkan keterangannya, lokasi bangunan yang dipakai sebagai gerai koperasi merupakan aset rumah milik warga yang disewa oleh pihak pengurus. Selepas masa kontrak sewa tersebut habis, sang pemilik rumah berencana untuk kembali menggunakan bangunan tersebut sehingga aktivitas koperasi harus dihentikan.

"Pemiliknya sudah mau pakai bangunan itu lagi karena masa sewanya sudah habis," ujarnya.

Alimatusyadiah tidak menampik bahwa keberadaan gerai koperasi itu memberikan dampak positif yang meringankan beban warga, khususnya dalam upaya mencukupi kebutuhan pangan harian dengan harga yang lebih terjangkau.

"Sangat terbantu warga di sini belanja di sana karena lebih murah. Tapi kalau barang-barangnya dari mana kami tidak tahu," katanya.

Menanggapi laporan dan informasi tersebut, Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengaku bahwa dirinya belum mengetahui ihwal penutupan operasional Koperasi Merah Putih di Pulau Buluh tersebut.

"Saya baru tahu. Saya akan cek dulu. Koperasi Merah Putih kan? Bukan koperasi nelayan? Saya cek dulu ya," kata Amsakar.

Terkini