JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN memperbarui strategi pengelolaan transformator (trafo) dari yang semula sebatas memperpanjang usia fisik peralatan menjadi langkah strategis dalam menggenjot nilai serta penerimaan bisnis demi menjaga kelangsungan perusahaan.
EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PLN Tri Hardimasyar menyebutkan bahwa trafo memegang peran amat vital dalam menjamin kelancaran pasokan arus listrik ke seluruh segmen pelanggan.
Kerusakan pada satu unit trafo saja berpotensi mengganggu stabilitas jaringan listrik, menurunkan kualitas pelayanan, hingga menghambat roda perekonomian masyarakat.
Atas dasar itulah, PLN memandang metode pemeliharaan berkala atau perbaikan saat terjadi kerusakan tidak lagi memadai untuk diterapkan saat ini.
Ia menjelaskan bahwa standar global kini telah mengadopsi konsep tata kelola aset terpadu yang memadukan pertimbangan risiko, efisiensi anggaran, dan performa alat sepanjang masa pengoperasiannya.
“Dalam perspektif asset management, keberhasilan aset bukan diukur dari usia aset yang panjang semata, tetapi bagaimana aset itu memberikan value, memberikan revenue bagi perusahaan,” ujarnya dalam sambutan pada acara Seminar dan Mini Exhibition yang diselenggarakan PT Wismatata Eltrajaya (WEJ) di Cikarang, dikutip Minggu (19/7/2026).
Tri menekankan bahwa trafo berumur panjang yang sering bermasalah tetap berisiko menggerus pendapatan perusahaan.
Oleh sebab itu, muara dari pembenahan manajemen aset ini adalah menciptakan nilai ekonomi yang optimal sekaligus memperkokoh ketahanan finansial PLN.
Berpatokan pada arah kebijakan tersebut, PLN mulai menerapkan pengambilan keputusan berbasiskan data konkret serta pemetaan risiko dalam pengelolaan trafo.
Ruang lingkup pendekatan ini mencakup penentuan spesifikasi trafo, penerapan pemantauan otomatis (online monitoring), sistem proteksi kebakaran, pemeliharaan on load tap changer (OLTC), uji diagnostik berkala, hingga penetapan langkah peremajaan atau penggantian unit.
Tri menggarisbawahi bahwa integrasi teknologi menjadi kunci utama agar setiap rupiah yang diinvestasikan pada aset mampu memberikan hasil berlipat.
Menurut perhitungan Tri, penerapan berbagai inovasi teknologi tak cuma memperkuat keandalan unit trafo, melainkan juga menekan biaya operasional, memperpanjang masa pakai ekonomis, dan meningkatkan ketepatan investasi perusahaan.
Pembaruan strategi ini dinilai kian mendesak di tengah lonjakan konsumsi listrik nasional, masifnya integrasi pembangkit energi bersih, digitalisasi infrastruktur kelistrikan, serta tuntutan efisiensi operasional.
Pada situasi ini, keandalan aset dan kecanggihan teknologi menjadi tumpuan utama agar seluruh fasilitas listrik dapat menyokong kebutuhan perusahaan maupun konsumen secara maksimal.
“Kami berharap inovasi yang berkembang di tingkat global dapat segera diimplementasikan sehingga pengelolaan aset ketenagalistrikan menjadi semakin andal, aman, efisien, dan berkelanjutan,” kata Tri.
Di sisi lain, laporan dari Reinhausen Indonesia (MR) menunjukkan bahwa pengadaan unit trafo baru di tingkat global membutuhkan masa tunggu yang relatif lama, yakni mencapai 3 tahun di Korea hingga 4 tahun di Jerman akibat lonjakan pemesanan dan kapasitas pabrik yang terbatas.
Tingginya permintaan pasar terhadap trafo turut dipicu oleh ekspansi pembangunan pusat data (data center) serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat haus daya listrik.
Padahal, jika dirawat secara tepat, unit trafo mampu beroperasi dalam jangka sangat panjang, seperti di Australia yang mencapai rata-rata 39 tahun dan Jerman berkisar 40 hingga 45 tahun.
Kelalaian dalam proses perawatan berkala diidentifikasi sebagai pemicu utama kehancuran unit trafo.
Merujuk riset CIGRE sejak 1990, sekitar 45% kerusakan trafo disebabkan oleh masalah kumparan, 20% pada komponen OLTC, dan 15% pada bagian isolator (bushing). Bahkan, kenaikan suhu minyak trafo sebesar 12 derajat Celsius saja sanggup memangkas usia pakai alat hingga 75%.
Sementara itu, penggunaan sistem pemantauan terintegrasi dengan pendingin memungkinkan kontrol kipas bekerja otomatis, seperti menyalakan kipas pertama di suhu 50 derajat dan kipas kedua saat suhu menyentuh 60 derajat.
Direktur Utama PT Wismatata Eltrajaya Tjahjadi Aquasa mengingatkan pentingnya ketahanan trafo dari gangguan internal jaringan maupun ancaman luar, seperti peretasan siber yang sempat memicu blackout di Jakarta pada 2019.
“Oleh sebab itu, kedepan pertimbangan utama dalam memilih peralatan dan sistem bukan lagi pada harga melainkan keandalan (reliability) dan resilience terhadap gangguan luar. Not price, but proof," kata Tjahjadi.