Laporan PBB Ungkap 2,69 Miliar Orang Dunia Tak Mampu Diet Sehat 2026

Laporan PBB Ungkap 2,69 Miliar Orang Dunia Tak Mampu Diet Sehat 2026
Ilustrasi Diet Sehat.

JAKARTA - Bagi sepertiga penduduk bumi, menerapkan pola makan sehat bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan persoalan kemampuan ekonomi.

Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa sebanyak 2,69 miliar orang di dunia tidak mampu membeli makanan bergizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Dokumen tahunan bertajuk The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 yang disusun oleh lima badan PBB ini mendesak intervensi global agar makanan sehat lebih terjangkau.

Laporan tersebut mencatat angka kelaparan global sejatinya menurun selama tiga tahun berturut-turut hingga mencapai 7,8 persen pada 2025, turun dari posisi 8,1 persen pada 2024.

Meski demikian, penurunan tingkat kelaparan tersebut belum dibarengi dengan pemerataan akses terhadap bahan pangan berkualitas tinggi.

Berdasarkan studi tersebut, biaya rata-rata untuk mengonsumsi makanan sehat mencapai 4,28 dolar AS berdasarkan paritas daya beli (PPP) per hari per orang.

Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Maximo Torero menyebut standar biaya tersebut jauh melampaui garis kemiskinan ekstrem global sebesar 3 dolar PPP per hari.

"Jadi, secara signifikan lebih tinggi," kata Torero.

Torero menegaskan tingginya harga bahan pangan sehat mendesak untuk ditangani, sebab masyarakat miskin berisiko bergantung pada makanan murah berkalori tinggi tanpa pemenuhan gizi seimbang.

Ia juga menyoroti kebijakan subsidi pemerintah yang mayoritas masih berfokus pada komoditas serealia serta bahan pangan pokok bertepung, sementara dukungan pada protein dan sayuran masih minim.

"Kebijakan tersebut berarti menyediakan kalori, tetapi bukan keberagaman makanan," ujar Torero.

Kondisi ketimpangan ini berdampak langsung pada lonjakan masalah kesehatan global seperti obesitas, kanker, hingga diabetes.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan tingkat obesitas orang dewasa secara global melonjak dari 12,1 persen pada 2012 menjadi 16,2 persen pada 2024.

Krisis keterjangkauan pangan sehat ini paling parah melanda benua Afrika, di mana 66,6 persen penduduknya tidak sanggup membeli makanan bergizi pada 2025.

Afrika kini memimpin angka kelaparan global sebesar 309 juta jiwa, melampaui wilayah Asia yang mencatatkan angka 292 juta jiwa.

Guna mengatasi persoalan ini, Torero mendorong penguatan investasi infrastruktur serta riset R&D untuk efisiensi rantai pasok pangan global.

Langkah ini diyakini sanggup menekan harga komoditas daging, produk susu, buah, serta sayuran agar lebih ramah di kantong masyarakat luas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index