IHSG Diprediksi Tertekan Pekan Depan, Uji Level 6.000–6.100

IHSG Diprediksi Tertekan Pekan Depan, Uji Level 6.000–6.100
Harga Minyak dan Tarif AS Bayangi IHSG, Indeks Berpotensi Uji Level 6.000 [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih akan mendapati tekanan pada sesi perdagangan pekan depan usai ditutup melemah secara tajam di pengujung pekan.

 Lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, serta tambahan aturan tarif impor anyar dari Amerika Serikat terhadap komoditas asal Indonesia, dipandang sebagai katalis negatif utama yang membayangi gerak pasar.

Para analis dari Phintraco Sekuritas berpandangan bahwa sekiranya kisruh di Timur Tengah terus berlanjut, harga minyak dunia berisiko bertahan pada level tinggi dalam waktu yang lebih panjang. Situasi ini dikhawatirkan kembali memicu lonjakan inflasi secara global sekaligus memukul balik sentimen di lantai bursa.

Tekanan terhadap IHSG turut bersumber dari kebijakan otoritas Amerika Serikat yang memberlakukan bea masuk tambahan sebesar 10% atas produk-produk asal Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mendongkrak tingkat ketidakpastian di antara para pelaku pasar, khususnya berkaitan dengan prospek ekspor nasional.

Dari kacamata analisis teknikal, Phintraco Sekuritas melihat momentum penguatan IHSG mulai mengendur. Berbekal kombinasi faktor tekanan eksternal serta sinyal teknikal tersebut, IHSG diprediksi masih bakal melenggang dalam fase konsolidasi pada pekan depan.

"IHSG berpeluang menguji area support pada kisaran 6.000–6.100 apabila harga minyak mentah tetap bertahan di level tinggi," tulis tim analis Phintraco Sekuritas, dikutip Minggu (26/7/2026).

Pada perdagangan hari Jumat (24/7/2026), IHSG terpaksa ditutup merosot 1,88% ke level 6.196,43. Koreksi tersebut terjadi setelah indeks sempat menyentuh level psikologis 6.400 secara intraday pada pekan yang sama. Penurunan itu dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) di tengah eskalasi harga minyak dunia.

Melambungnya harga energi kian mempertebal kecemasan para investor terhadap ancaman inflasi global seandainya konflik di Timur Tengah berlarut-larut.

Berdasarkan tinjauan sektoral, seluruh indeks sektor kompak parkir di teritori negatif. Tekanan terparah dialami oleh sektor consumer cyclical yang ambles 3,04%, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar yang kian menebal terhadap prospek daya beli di tengah hantaman tekanan eksternal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index