BRI Fokus Salurkan Kredit Meski Ada Perubahan Kebijakan KLM BI

BRI Fokus Salurkan Kredit Meski Ada Perubahan Kebijakan KLM BI
Ilustrasi Kredit.

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menegaskan bahwa perubahan skema Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Bank Indonesia tidak akan menggeser arah utama pengelolaan likuiditas perseroan.

Walaupun ketentuan anyar memberi keleluasaan bagi perbankan memperoleh insentif lewat kepemilikan surat berharga, BRI tetap memprioritaskan penyaluran kredit sebagai fokus utama sembari mengoptimalkan instrumen likuiditas sebagai penyeimbang.

Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan bahwa skema KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) memberikan fleksibilitas ekstra bagi perseroan dalam mengelola likuiditas, termasuk lewat optimalisasi portofolio surat berharga seperti SBN dan instrumen BI.

"BRI juga akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kredit yang sehat dengan pengelolaan aset likuid secara prudent melalui pendekatan asset-liability management yang disiplin," ujar Dhanny kepada Bisnis, Minggu (26/7/2026).

Menurutnya, pengelolaan instrumen surat berharga diposisikan murni untuk menjaga ketahanan likuiditas serta efisiensi beban pendanaan, bukan guna menggantikan porsi ekspansi kredit.

"Strategi BRI tetap mengedepankan fungsi intermediasi, sehingga pengelolaan surat berharga akan diposisikan sebagai pelengkap untuk menjaga kecukupan likuiditas dan efisiensi pendanaan, bukan sebagai pengganti ekspansi kredit," katanya.

Adapun penyesuaian strategi pengelolaan likuiditas perbankan ini mencuat usai Bank Indonesia melakukan penyempurnaan pada regulasi kebijakan KLM.

Lewat skema baru tersebut, bank sentral menaikkan plafon total insentif KLM dari semula maksimal 5,5 persen menjadi 6 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK).

Selain mempertahankan skema insentif guna memacu pembiayaan sektor prioritas, BI turut mengenalkan KLM PPU dengan besaran insentif maksimal 2 persen DPK bagi bank yang memelihara rasio kepemilikan surat berharga tertentu.

Sementara itu, alokasi KLM untuk financing channel penyaluran kredit sektor prioritas disesuaikan menjadi maksimal 4 persen dari DPK.

Lewat skema teranyar ini, perbankan mengantongi pilihan tambahan untuk menyelaraskan pengelolaan likuiditas, baik via ekspansi kredit maupun menjaga komposisi aset likuid lewat kepemilikan surat berharga.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa penguatan KLM ditujukan untuk memicu ekspansi, mengurai kendala segmentasi likuiditas pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar keuangan dengan tetap mengawal penyaluran kredit ke sektor prioritas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index