Indonesia dan Ethiopia Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Kolaborasi Jazz

Indonesia dan Ethiopia Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Kolaborasi Jazz
Penampilan musisi jazz Indonesia dan Ethiopia di African Jazz Village, Ghion Hotel, Addis Ababa, Ethiopia.

JAKARTA - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Addis Ababa, Ethiopia, mempertegas pentingnya peran diplomasi budaya demi mempererat ikatan bilateral antara Indonesia dan Ethiopia lewat pertunjukan musik kolaboratif di African Jazz Village.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Ethiopia, Djibouti, dan Uni Afrika Faizal Chery Sidharta menyampaikan dalam keterangan tertulisnya bahwa agenda ini menjadi pijakan sejarah baru untuk diplomasi budaya kedua bangsa.

Diselenggarakan oleh pusat kebudayaan Loka Budaya milik KBRI Addis Ababa, panggung tersebut menghadirkan pianis jazz asal Indonesia yang telah mengantongi penghargaan internasional, Nial Djuliarso.

Pertunjukan ini sukses menyapa lebih dari 120 penonton, yang terdiri atas kalangan diplomatik, tokoh seni Ethiopia, penikmat jazz, hingga diaspora Indonesia, melalui suguhan komposisi dan improvisasi yang memikat.

"Malam ini menandai penampilan perdana Nial di Afrika, sebuah babak baru dalam perjalanan musiknya, sekaligus mendorong komunikasi antara dua budaya berbeda melalui satu bahasa universal, yaitu jazz," kata Dubes Faizal.

"Tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai perjalanan tersebut selain di sini, di African Jazz Village, rumah bagi musik Ethio-jazz," lanjutnya.

Dalam panggung tersebut, Nial berkolaborasi bersama penyanyi Indonesia, Tia Mutiasari, serta vokalis Ethiopia, Rebka Getachew. Mereka tampil diiringi musisi ternama Ethiopia seperti gitaris Girum Gizaw, pemain double bass Mebratu Shewa, drummer Muse Mekonen, dan peniup saksofon Girum G/Meskel.

Talenta jazz muda Ethiopia, Hilina Berta, bersama vokalis asal Kolombia, Guillermo, turut memeriahkan suasana dengan bergabung secara mendadak dalam pertunjukan itu.

Gelaran musik ini membawakan deretan tembang lintas genre, mulai dari lagu nasional serta daerah Indonesia seperti "Indonesia Pusaka", "Juwita Malam", dan "Es Lilin", karya orisinal Djuliarso berjudul "Moscow Morning", ritme Ethio-jazz "Yekermo Sew", tembang legendaris Nat King Cole "L.O.V.E.", sampai karya pop-jazz Latin "Bésame Mucho".

Nial membagikan rasa sukacitanya karena beroleh kesempatan untuk beraksi di panggung tersebut. Ia menyampaikan bahwa deretan karya Mulatu Astatke, sosok yang dikenal luas sebagai pelopor Ethio-jazz, memberikan inspirasi besar baginya.

Selain menghibur di African Jazz Village, Nial menyelenggarakan sesi lokakarya serta masterclass mengenai teknik, improvisasi, dan tradisi jazz untuk para musisi lokal Ethiopia, pelajar, hingga para pencinta musik di ruang Loka Budaya KBRI Addis Ababa.

"Saya sangat senang dapat merasakan tradisi musik lokal, terutama Ethio-jazz. Setelah lokakarya ini, saya berharap para seniman lokal dapat terus memperluas jaringan mereka, bermain musik bersama, dan menyelami lebih dalam berbagai tradisi jazz," ujarnya.

"Saya juga tidak sabar untuk menciptakan lagu yang terinspirasi dari pengalaman dan kunjungan saya di Addis Ababa ini," tambahnya.

Di antara deretan penonton yang hadir, tampak Melaku Belay, penari sekaligus koreografer kelas dunia asal Ethiopia yang menjabat sebagai direktur dan pendiri Fendika Cultural Center. Ia memberikan apresiasi tinggi atas langkah KBRI Addis Ababa yang memfasilitasi dialog autentik antarnegara lewat media musik.

Belay memandang sinergi yang terbangun secara alami antara musisi Indonesia dan Ethiopia tersebut sebagai pertunjukan yang sangat memukau.

"Ini bukan sekadar momen sesaat, melainkan sebuah fondasi yang akan terus berlanjut. Saya selalu percaya bahwa seni adalah solusi utama untuk membangun jembatan (penghubung), persatuan, dan perdamaian," pungkasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index