PORTALENERGI.ID — Persoalan transisi energi Indonesia bukan hanya soal menambah mesin pembangkit. Kementerian ESDM mencatat pertumbuhan kebutuhan listrik yang pesat akibat digitalisasi, industri manufaktur berat, dan pembangunan data center berskala besar (hyperscale) membuat pasokan listrik andal menjadi taruhan utama.
Batu Bara Masih Jadi Andalan, Jaringan Listrik Tertekan
Batu bara tetap menjadi sumber energi utama di tengah dorongan menuju energi bersih. Kondisi ini memaksa pemerintah dan PLN menyeimbangkan target dekarbonisasi dengan kebutuhan pasokan yang terus bertambah.
Tantangannya berlapis. Pembangkit baru harus dibangun, jaringan transmisi mesti diperkuat, dan investasi wajib mengalir tanpa henti. Semua itu harus dilakukan tanpa mengorbankan keandalan dan harga listrik yang terjangkau bagi industri maupun rumah tangga.
Lebih dari 11.000 Profesional Akan Hadir di BSD City
Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 yang akan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City ini ditargetkan menjadi magnet bagi 11.000 profesional industri, 280 peserta pameran internasional, dan 200 pembuat kebijakan dari ASEAN.
Acara ini lahir dari kemitraan strategis antara Clarion Events Asia dan Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI). Tema yang diusung adalah “Powering Regional Sovereignty, Securing Energy Systems Resilience” — kedaulatan energi kawasan dan ketangguhan sistem listrik menjadi fokus utama.
Apa yang Dibahas dalam Tiga Hari?
Strategic Summit menjadi agenda utama selama penyelenggaraan. Ada empat jalur konferensi yang berjalan paralel: modernisasi jaringan listrik (grid modernisation), pembangkit bersih dan termal, dekarbonisasi industri, serta digitalisasi dan kecerdasan buatan.
Forum khusus juga akan digelar bersamaan, termasuk Nickel Power Forum yang membahas hilirisasi nikel, Nuclear Forum kedua, Clean Energy Investor Agora untuk pertemuan investor, serta DC X POWER yang fokus pada kelistrikan data center.
Dialog Tingkat Tinggi untuk Masa Depan Listrik ASEAN
Rangkaian pertemuan tingkat tinggi akan mempertemukan pejabat pemerintah, CEO perusahaan utilitas, regulator energi, dan organisasi internasional dalam empat sesi dialog. Pokok bahasannya mencakup ketahanan energi regional, investasi infrastruktur, kerja sama kelistrikan lintas negara, hingga kebijakan yang membentuk masa depan jaringan listrik ASEAN.
Lebih dari 300 pembicara ahli dari perusahaan utilitas, pemerintahan, dan perusahaan teknologi akan mengisi forum ini.
Pandangan Pemangku Kepentingan
Sektor kelistrikan ASEAN tengah menjalani transformasi terbesar dalam sejarahnya. Negara-negara di kawasan harus menyeimbangkan kenaikan kebutuhan listrik dengan target pengurangan emisi, sambil memperkuat ketahanan sistem.
“Enlit Asia dan MKI Electricity Connect menjadi wadah bagi pembuat kebijakan, perusahaan utilitas, investor, dan inovator teknologi untuk bertukar pengetahuan, membangun kemitraan, dan mendorong solusi nyata yang akan membentuk masa depan energi di ASEAN,” ujar Simon Hoare, Portfolio Director Enlit Asia.
Sekretaris Jenderal MKI, Arsyadany Ghana Akmalaputri, menegaskan penguatan ketahanan energi membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perusahaan utilitas, investor, penyedia teknologi, dan pengguna energi industri.
“Melalui MKI Electricity Connect dan Enlit Asia, kami menghadirkan platform yang tidak hanya mendukung target transisi energi Indonesia, tetapi juga berkontribusi dalam membangun ekosistem energi ASEAN yang lebih kuat, terhubung, dan tangguh,” kata Arsyadany.
Momentum Strategis bagi Pemerintah dan PLN
Plt Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyebut ajang ini sebagai momentum strategis bagi pemerintah, PLN, pelaku industri, akademisi, dan investor untuk bersama-sama membentuk masa depan energi Indonesia.
“Forum ini menjadi kesempatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk membahas percepatan transisi energi, digitalisasi sistem ketenagalistrikan, kesiapan pasokan listrik untuk mendukung pengembangan infrastruktur data center, serta pengembangan energi nuklir dalam rangka memperkuat kedaulatan energi nasional,” ujar Tri.
Sesi business matching juga akan tersedia bagi pengunjung untuk terhubung langsung dengan pengambil keputusan senior. Peluang kemitraan terbuka dengan perusahaan utilitas, produsen listrik swasta (IPP), pengembang energi terbarukan, kontraktor EPC, hingga instansi pemerintah.
Ajang ini menjadi barometer sejauh mana kawasan Asia Tenggara serius menata masa depan energinya — di tengah kebutuhan yang terus naik dan tuntutan iklim yang tak bisa ditawar.