JAKARTA - Abu vulkanik yang menempel di lantai, furnitur, maupun berbagai permukaan di dalam rumah tidak bisa dibersihkan secara asal. Alih-alih membuat tempat tinggal kembali bersih, metode pembersihan yang keliru justru sanggup membuat partikel abu kembali beterbangan dan berisiko terhirup oleh anak-anak.
Ketua UKK Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menyampaikan bahwa paparan abu vulkanik sanggup memicu beragam gangguan pernapasan akut pada anak.
“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” jelas dr. Wahyuni melalui keterangan siaran pers.
Oleh sebab itu, selain meminimalkan paparan abu dari luar ruangan, orang tua wajib memperhatikan tata cara membersihkan abu yang telah masuk dan mengendap di dalam tempat tinggal.
Cara Aman Membersihkan Abu Vulkanik
1. Jauhkan Anak dari Area yang Sedang Dibersihkan
Sebelum mengawali proses pembersihan, pastikan anak berada jauh dari lokasi tersebut. IDAI merekomendasikan agar anak diungsikan sementara waktu ketika orang tua menyapu atau mengelap abu.
Langkah preventif ini bertujuan memangkas risiko anak menghirup partikel abu yang berpotensi kembali terdispersi selama proses pembersihan berlangsung.
2. Gunakan Lap atau Kain Basah
Untuk mengusap permukaan yang terpapar abu, manfaatkan kain atau lap basah. Menurut IDAI, pemakaian lap basah sangat efektif membantu mencegah debu beterbangan.
Metode ini dapat diterapkan secara merata pada ubin lantai maupun berbagai perabotan rumah tangga yang tertutup endapan abu vulkanik.
3. Basahi Lantai atau Benda Sebelum Dibersihkan
Apabila abu menempel tebal pada lantai atau benda di rumah, percikkan air terlebih dahulu pada permukaan yang hendak dibersihkan.
IDAI menyebutkan, menyiram atau membasahi objek dengan air berguna mengikat debu agar tidak terbang melayang sewaktu disapu atau diseka menggunakan kain.
4. Jangan Menyapu Abu dalam Kondisi Kering
Hindari kebiasaan menyapu abu vulkanik dalam keadaan kering. Tindakan tersebut justru memicu partikel abu yang tadinya mengendap kembali melayang ke udara.
Dampaknya, partikel halus tersebut berisiko tinggi terhirup oleh siapapun yang berada di sekitarnya. Maka dari itu, teknik pembersihan berbasis basah jauh lebih disarankan.
Waspadai Gejala pada Anak
Seusai kediaman dibersihkan, orang tua tetap wajib mengamati kondisi kesehatan anak, terlebih jika sebelumnya sempat terhirup abu vulkanik. Di samping bersin, batuk, dan pilek, anak dapat mengalami sesak napas akibat peradangan saluran pernapasan.
Wahyuni mengingatkan orang tua agar tidak menganggap sepele tanda-tanda yang muncul pada anak pascapaparan abu vulkanik.
“Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94%, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata dr. Wahyuni.
Dengan demikian, menguras endapan abu vulkanik bukan sebatas urusan menjaga kebersihan hunian. Prosedurnya harus dijalankan secara cermat supaya partikel abu tidak melayang kembali dan membahayakan saluran pernapasan anak.