PORTALENERGI.ID — ExxonMobil Holdings Corp memperkirakan emisi karbon dioksida dunia mencapai 30 miliar metrik ton pada 2050, hampir tiga kali lipat level yang dibutuhkan untuk menahan pemanasan global di bawah 2°C. Proyeksi dalam laporan tahunan Energy Outlook itu naik sekitar 10% dari estimasi tahun lalu.
ExxonMobil Holdings Corp menilai dunia masih akan bergantung pada batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dalam beberapa dekade ke depan. Ketergantungan itu membuat lintasan emisi global menjauh dari target iklim yang disepakati komunitas internasional.
Perusahaan menyampaikan proyeksi tersebut melalui laporan tahunan Energy Outlook. Laporan ini menjadi acuan ExxonMobil dalam memetakan arah permintaan energi dan kebijakan iklim hingga pertengahan abad.
Emisi 2050 Lampaui Batas Aman Iklim
Emisi karbon dioksida diperkirakan menyentuh 30 miliar metrik ton pada tahun 2050. Angka itu hampir tiga kali lipat dari level yang diperlukan untuk membatasi pemanasan global hingga 2°C di atas standar pra-industri.
Estimasi terbaru ini sekitar 10% lebih tinggi dibandingkan proyeksi tahun lalu. Penyebabnya, penerapan teknologi penangkapan karbon (carbon capture) berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Batu bara tetap menjadi salah satu bahan bakar utama untuk pembangkit listrik di sejumlah negara. Kondisi itu menahan laju penurunan emisi meski berbagai negara sudah mencanangkan target net zero emission.
ExxonMobil Akui Target 2°C Makin Jauh
Direktur Ekonomi dan Energi ExxonMobil, Prasanna Joshi, mengungkap dunia "masih sangat jauh" dari target 2°C. Target itu ditetapkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) PBB demi menghindari dampak terburuk perubahan iklim.
Pernyataan Joshi menegaskan bahwa perusahaan tidak melihat percepatan transisi energi dalam waktu dekat. Batu bara masih punya peran besar dalam bauran energi global, terutama di negara berkembang yang mengejar pertumbuhan ekonomi.
Tekanan bagi Negara Penghasil Batu Bara
Proyeksi ExxonMobil ini menjadi sinyal penting bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia. Permintaan batu bara global yang bertahan lama bisa memperpanjang usia tambang, tetapi sekaligus memperbesar tekanan internasional soal emisi.
Di sisi lain, perlambatan penangkapan karbon menghambat upaya sejumlah negara menurunkan intensitas emisi dari pembangkit listrik. Teknologi ini selama ini diandalkan sebagai jembatan antara penggunaan bahan bakar fosil dan target iklim.
Selisih 10% dari proyeksi tahun lalu menunjukkan lintasan emisi bergerak ke arah yang berlawanan dengan kebutuhan iklim. Tanpa percepatan mitigasi, target 2°C akan semakin sulit dikejar pada pertengahan abad ini.