JAKARTA - Merawat diri atau self-care tidak hanya sekadar menjaga gaya hidup sehat atau melakukan relaksasi. Lebih dari itu, self-care mencakup kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan yang tepat saat menghadapi masalah kesehatan ringan.
Dalam rangka memperingati International Self-Care Day, Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI) menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan. Hal ini bertujuan agar masyarakat dapat menjalankan self-care secara aman serta bertanggung jawab.
Imbauan tersebut disampaikan oleh APSMI lewat siaran pers pada Selasa (28/7/2026). APSMI menilai bahwa literasi kesehatan adalah fondasi utama agar warga memahami kondisi tubuhnya, memilih penanganan yang pas, dan tahu kapan harus mendatangi tenaga medis.
Dalam siaran persnya, self-care dijelaskan sebagai kemampuan individu, keluarga, hingga masyarakat untuk meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengelola penyakit, serta menjaga kebugaran, baik dengan maupun tanpa bantuan medis.
Dengan literasi kesehatan yang baik, masyarakat dapat mengatasi keluhan ringan secara mandiri sebagai tindakan awal. Namun, kemampuan ini harus diimbangi pemahaman mengenai gejala yang membutuhkan penanganan dokter.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memandang intervensi self-care sebagai elemen penting untuk mewujudkan kesehatan bagi semua pihak sekaligus mempercepat cakupan kesehatan semesta (Universal Health Coverage/UHC).
Chairman APSMI, Rachmadi Joesoef, menyebutkan bahwa self-care yang bertanggung jawab memberikan dampak positif bagi individu, sistem kesehatan, hingga perekonomian.
"Self-care yang bertanggung jawab dimulai dari literasi kesehatan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengelola gangguan kesehatan ringan dengan tepat, mereka tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan pribadi, tetapi juga membantu sistem layanan kesehatan fokus pada pasien yang membutuhkan penanganan medis kompleks," jelas Rachmadi.
Berdasarkan laporan riset sosio-ekonomi 2026 dari Global Self-Care Federation (GSCF), Rachmadi mengungkapkan bahwa praktik self-care berpotensi menghemat anggaran kesehatan global hingga 144 miliar dollar AS per tahun.
Selain itu, self-care mampu menghemat 2,2 miliar jam waktu pelayanan dokter, menambah 43,6 miliar hari produktif, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Manfaat ini diproyeksikan melonjak hingga 50 persen pada 2040 jika didukung regulasi serta literasi yang kuat.
Director-General GSCF, Greg Perry, menyatakan bahwa penerapan self-care secara menyeluruh memberikan efisiensi tinggi bagi sistem kesehatan yang sedang menghadapi beban finansial.
"Ketika diintegrasikan secara penuh, self-care memberikan tingkat pengembalian investasi yang sangat tinggi: memberdayakan individu, mendukung komunitas, dan menjadi solusi paling efisien bagi sistem kesehatan global yang tengah menghadapi tekanan finansial," ujar Perry.
Kendati demikian, APSMI menegaskan self-care bukan berarti masyarakat bebas mengonsumsi obat tanpa pertimbangan. Pengobatan mandiri tetap memerlukan pengetahuan mendasar, seperti membaca label kemasan dan mengenali batasan gejala.
Rachmadi menambahkan, peningkatan literasi kesehatan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Isu ini juga akan dibahas dalam APSMI Self-CARER Bali Summit 2026 pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 mendatang.