Aplikasi AI Penghitung Kalori Berpotensi Meleset Hingga 345 Kalori

Aplikasi AI Penghitung Kalori Berpotensi Meleset Hingga 345 Kalori
Ilustrasi AI Penghitung Kalori.

JAKARTA - Menghitung kalori kini dapat dilakukan secara praktis hanya dengan memotret makanan menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Namun, kemudahan tersebut rupanya tidak selalu menghasilkan perhitungan yang akurat.

Sebuah riset menemukan bahwa empat aplikasi penghitung kalori berbasis foto dapat memperkirakan jumlah kalori makanan 250 hingga 345 kalori lebih rendah dari angka sebenarnya dalam satu porsi.

Temuan ini menjadi catatan penting bagi masyarakat yang mengandalkan platform AI untuk mengatur pola makan, menurunkan berat badan, atau memantau asupan nutrisi harian.

Melansir Science Daily pada 26 Juli 2026, riset tersebut menguji empat aplikasi pelacak kalori berbasis foto, yaitu MyFitnessPal, LoseIt!, CalAI, dan Appediet.

Para peneliti memakai foto dari 102 sajian yang disiapkan khusus di dapur metabolik terkontrol. Setiap bahan ditimbang hingga ketelitian 0,1 gram agar data kandungan kalori dan nutrisinya sangat presisi.

Foto makanan tersebut lalu diunggah ke dalam empat aplikasi untuk dibandingkan dengan kadar nutrisi riil. Penelitian ini merupakan bagian dari studi nutrisi di NIH Clinical Center.

Aaron Hengist, peneliti pascadoktoral di National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), menyampaikan bahwa aplikasi pelacak kalori via foto memang kian populer untuk mengelola kesehatan.

"Namun, akurasi banyak aplikasi ini belum dievaluasi secara menyeluruh. Penelitian kami membantu menjawab pertanyaan apakah aplikasi tersebut dapat memperkirakan kalori secara andal," kata Hengist.

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa keempat platform tersebut sama-sama cenderung meremehkan jumlah kalori. Rata-rata perhitungannya lebih rendah sekitar 250 hingga 345 kalori per porsi dari takaran asli.

Selain kalori, aplikasi tersebut juga memperkirakan kadar lemak sekitar 30 gram lebih rendah. Temuan serupa turut diberitakan oleh U.S. News & World Report pada 27 Juli 2026.

Peneliti menjelaskan bahwa AI bekerja dengan mengenali jenis makanan, mengestimasi porsi, lalu mencocokkannya dengan basis data nutrisi. Masalahnya, porsi dan komposisi bahan sulit diketahui secara tepat hanya dari visual foto.

"Orang yang menggunakan aplikasi pelacakan berbasis foto tanpa menyesuaikan ukuran porsi atau memasukkan jumlah makanan sebaiknya tidak menerima hasilnya begitu saja," ujar Hengist.

Analisis lanjutan terhadap lebih dari 200 makanan tambahan menunjukkan bahwa aplikasi AI makin kesulitan memprediksi nutrisi pada menu rendah karbohidrat atau ketogenik yang tinggi lemak.

Sebab itu, Hengist mengingatkan bahwa total kalori yang dikonsumsi bisa jadi jauh lebih tinggi dari angka di layar ponsel, terutama pada makanan kaya lemak.

Para peneliti menyarankan agar fitur pemindai foto tidak dipakai sebagai satu-satunya rujukan. Menggabungkan analisis AI dengan pencatatan manual dianggap lebih ampuh menghasilkan takaran yang akurat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index