Koneksi Usus dan Otak Jadi Kunci Penting Tumbuh Kembang Kecerdasan Anak

Senin, 07 September 2026 | 06:14:02 WIB
Ilustrasi anak tampil percaya diri.

JAKARTA - Banyak orang tua beranggapan bahwa kecerdasan murni ditentukan oleh kapasitas otak semata. Tidak mengherankan jika berbagai macam kelas tambahan, metode belajar, hingga permainan edukatif, dijejalkan sedini mungkin demi mendongkrak kemampuan akademis buah hati sejak usia prasekolah.

Kendati demikian, ilmu pengetahuan medis menemukan fakta yang mematahkan pemahaman tradisional tersebut. Sistem pencernaan rupanya menjadi organ yang memegang kendali besar terhadap kognitif, kesiapan belajar, hingga stabilitas emosi anak.

Hal tersebut dipaparkan oleh Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, dalam acara diskusi Bebelac bertajuk "Growing Little Minds: The Science Behind Every Child's Potential" di Jakarta.

Hubungan Saluran Cerna dan Kognisi Anak

Selama ini, standar kepintaran di sebagian besar masyarakat umumnya berpatokan pada tingginya nilai di sekolah atau kemampuan berhitung cepat. Padahal, kecerdasan anak mencakup ranah kognitif yang sangat luas, mulai dari kemampuan beradaptasi, kesiapan memori, penalaran, hingga pemecahan masalah.

Setiap anak lahir dengan potensi unik yang selalu membutuhkan fondasi kokoh, dan semuanya bermula dari kondisi perut yang sehat.

"Nutrisi yang tepat, kesehatan saluran cerna yang baik, dan stimulasi yang sesuai, merupakan bagian dari fondasi yang saling mendukung untuk membantu anak lebih siap belajar, bereksplorasi, dan mengembangkan berbagai kemampuan kognitifnya," terang dr. Ray.

Lebih lanjut, ranah intelektual anak sangatlah beragam. Bakat seperti kecerdasan kinestetik bagi anak yang mahir berolahraga, hingga kecerdasan spasial ketika anak mampu menghafal arah jalan, seluruhnya membutuhkan kesiapan biologis agar bisa terstimulasi dengan maksimal.

Ketika organ pencernaannya kurang prima, sehebat apa pun sajian bergizi di atas meja bisa berujung sia-sia lantaran usus tidak sanggup menyerapnya secara sempurna.

"Kesehatan saluran cerna yang baik membantu mendukung penyerapan nutrisi, sehingga tubuh si kecil dapat memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung proses belajar dan perkembangannya," papar dr. Ray.

Peran Gut-Brain Axis dalam Koneksi Usus dan Otak

Hubungan dua arah antara organ kepala dan perut ini dikenal luas dalam dunia medis dengan sebutan gut-brain axis. Sistem pencernaan manusia secara alami dihuni oleh triliunan mikrobiota yang bertugas mengelola makanan sekaligus mengirimkan berbagai sinyal penting langsung menuju otak.

"Banyak penelitian bilang bahwa cross-talk bi-directional itu lebih banyak diatur oleh sistem pencernaan daripada otak," ungkap dr. Ray.

Berbagai sensasi fisik akibat lonjakan emosi, seperti rasa mulas ketika anak gugup saat menghadapi ujian atau beradaptasi di lingkungan baru, sebenarnya merupakan wujud nyata reaksi bakteri di dalam perut.

Kapasitas kognitif dan ketahanan mental anak justru sangat dipengaruhi oleh kondisi biologis ususnya sendiri. Jika ekosistem perutnya tangguh, anak akan lebih mudah menerima pelajaran dan mengeksplorasi sekitarnya.

Sebaliknya, sedikit saja terjadi gangguan pada saluran cerna, dampaknya akan langsung terlihat pada daya tangkap dan emosi anak di kelas.

"Anak yang sebulan dua kali mencret atau diare dan konstipasi itu, di akhir tahun IQ-nya bisa turun," tambah dr. Ray.

Pentingnya Asupan Bernutrisi dan Prebiotik untuk Usus

Agar pertukaran pesan biokimiawi antara perut dan otak berjalan tanpa hambatan, kelestarian lingkungan organ cerna harus dijaga sedini mungkin. Menurut dr. Ray, langkah esensialnya terletak pada pemenuhan gizi seimbang yang dilengkapi dengan asupan serat dan prebiotik.

Praktisi pengasuhan anak, Cynthia, menyadari bahwa menyiapkan ruang aman bagi anak untuk tumbuh tidak hanya sekadar soal psikologis, melainkan juga menjaga stabilitas fisik dan sistem pencernaannya dari dalam.

Sebagai seorang ibu, ia membiasakan sang anak menyantap menu rumahan yang kaya serat tanpa harus menakut-nakuti anak dengan melabeli suatu makanan sebagai hal yang buruk, melainkan menanamkan pemahaman soal pengaturan gizi.

"Bagi saya, nutrisi yang tepat, pencernaan yang sehat, dan stimulasi melalui pengalaman sehari-hari menjadi bagian penting dalam membantu anak lebih siap belajar dan mendukung perkembangan kognitifnya sesuai dengan potensinya," kata Cynthia.

Kebutuhan zat gizi harian yang paling disukai oleh bakteri baik tidak hanya didapatkan melalui makanan keluarga berserat utuh, melainkan juga lewat nutrisi tambahan yang tepat sasaran.

"Asupan nutrisi yang mengandung prebiotik dan serat pangan, seperti FOS, GOS, dan Inulin dapat mendukung kesehatan saluran cerna dan microbial diversity," sebut dr. Ray.

Rangkaian serat penting ini dapat bertahan melewati tingginya asam lambung hingga akhirnya tiba di usus besar. Begitu tiba, bakteri baik akan langsung mengonsumsinya untuk berkembang biak, sehingga usus menjadi pertahanan yang kuat sekaligus memuluskan transmisi kecerdasan menuju otak.

Terkini