Ketahui Bahaya Abu Vulkanik dan Gejala Gangguan Pernapasan Anak

Senin, 07 September 2026 | 06:15:32 WIB
Ilustrasi Anak Kecil menggunakan Masker.

JAKARTA - Abu vulkanik dari erupsi gunung berapi bukan sekadar debu biasa yang mengotori lingkungan sekitar. Partikel berukuran sangat halus ini sanggup mengiritasi saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak yang tergolong kelompok rentan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan para orang tua untuk mewaspadai dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik, seiring masih berlangsungnya erupsi Gunung Anak Krakatau.

Melalui Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi, IDAI menyebutkan bahwa abu vulkanik dapat memicu beragam gangguan pernapasan akut pada anak.

Abu vulkanik terbentuk dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang amat halus. Partikel tersebut memiliki permukaan tajam serta abrasif sehingga ketika terhirup dapat menggores sekaligus mengiritasi saluran pernapasan.

Selain partikel padat, abu vulkanik juga sanggup mengandung gas iritan yang berpotensi memperparah iritasi dan memicu peradangan pada sistem pernapasan.

Gejala Gangguan Pernapasan Akibat Abu Vulkanik

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menyampaikan bahwa paparan abu vulkanik dapat menimbulkan sejumlah gejala pada anak.

“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas,” jelas dr. Wahyuni.

Orang tua perlu lebih waspada apabila anak memiliki riwayat asma, alergi saluran napas, atau penyakit paru kronis.

Paparan abu vulkanik sanggup memicu serangan akut atau memperburuk kondisi yang sudah ada. Anak dengan kondisi tertentu juga termasuk kelompok berisiko lebih tinggi, seperti bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan.

Oleh sebab itu, gejala gangguan pernapasan pada anak sebaiknya tidak dianggap sepele, terlebih jika muncul usai anak terpapar abu vulkanik.

Tanda Anak Perlu Segera Dibawa ke Rumah Sakit

IDAI mengimbau orang tua agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan yang kian berat.

Beberapa indikasi yang perlu diperhatikan antara lain laju napas anak meningkat atau anak bernapas lebih cepat dari biasanya, terdapat tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, serta saturasi oksigen berada di bawah 94 persen berdasarkan pemeriksaan dengan oksimeter jari.

Menurut Wahyuni, kondisi tersebut memerlukan penanganan medis secara cepat.

Cara Melindungi Anak dari Abu Vulkanik

Guna mengurangi risiko paparan, IDAI merekomendasikan agar anak dijauhkan dari wilayah yang terdampak erupsi. Jika evakuasi tidak memungkinkan, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat, terutama sewaktu kualitas udara memburuk.

Orang tua juga perlu memperhatikan sirkulasi udara di dalam rumah.

Peralatan yang menyedot udara dari luar, seperti pendingin ruangan (AC), sebaiknya dimatikan atau diatur memakai mode sirkulasi ulang (recirculation). Kipas angin juga sebaiknya tidak dinyalakan ketika terdapat abu vulkanik yang mengendap.

Aliran udara dari kipas sanggup membuat partikel abu yang berada di lantai atau permukaan furnitur kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.

Saat membersihkan rumah, anak sebaiknya dijauhkan dari area tersebut. Pembersihan dapat dilakukan menggunakan kain atau lap basah agar partikel abu tidak mudah terbang. Menyapu abu dalam kondisi kering justru dapat membuat partikel kembali menyebar ke udara.

Bila anak harus keluar rumah, orang tua dianjurkan memastikan anak berusia lebih dari dua tahun menggunakan masker khusus anak yang terpasang dengan baik.

Pelindung mata, seperti kacamata anak, juga dapat dipakai untuk mengurangi risiko iritasi akibat partikel abu. Anak juga sebaiknya mengenakan pakaian tertutup guna mengurangi kontak langsung abu dengan kulit.

Seusai beraktivitas di luar ruangan, anak dianjurkan segera membersihkan diri dan mengganti pakaian.

Khusus anak dengan riwayat asma atau alergi saluran napas, orang tua perlu memastikan obat rutin dan obat darurat yang biasa digunakan selalu tersedia.

Paparan asap tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok dan asap dapur, juga perlu dihindari lantaran sanggup semakin mengiritasi saluran pernapasan anak.

Selain perlindungan dari paparan, pastikan anak cukup minum guna mencegah dehidrasi serta tetap mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menegaskan bahwa perlindungan anak wajib menjadi prioritas utama selama kondisi darurat akibat erupsi.

“Jangan menunggu sampai gejala muncul,” kata dr. Piprim.

Terkini