Panduan IDAI Melindungi Anak dari Paparan Abu Vulkanik Gunung Berapi

Senin, 07 September 2026 | 06:22:02 WIB
Ilustrasi Abu Vulkanik Anak Krakatau.

JAKARTA - Paparan abu vulkanik usai erupsi gunung berapi dapat mengganggu kesehatan, khususnya pada saluran pernapasan anak. Ukuran partikel abu yang amat halus dan tajam berisiko memicu iritasi saat terhirup.

Kondisi tersebut membutuhkan kewaspadaan ekstra dari para orang tua, terutama bagi anak yang mengidap asma, penyakit paru kronis, maupun alergi saluran napas.

Menanggapi sebaran abu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) lewat Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi memberikan sekumpulan rekomendasi untuk mendampingi orang tua menjaga buah hati. Terdapat 13 langkah yang dapat diterapkan guna menekan risiko paparan abu vulkanik pada anak.

1. Jauhkan anak dari wilayah terdampak

Langkah paling ideal menurut IDAI yakni mengungsikan anak agar terhindar dari lokasi yang mengalami dampak erupsi.

Apabila tempat tinggal berada dalam kawasan terdampak abu vulkanik dan situasi tidak memungkinkan untuk bertahan secara aman, orang tua wajib mengikuti petunjuk evakuasi dari pihak berwenang.

2. Berada di dalam rumah saat kualitas udara memburuk

Jika proses evakuasi belum dapat dilakukan, anak disarankan tetap berada di dalam rumah saat kualitas udara sekitar memburuk. IDAI menganjurkan anak berada di dalam ruangan tertutup rapat apabila angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melampaui 100.

Kondisi kualitas udara ini dapat dipantau orang tua melalui kanal atau layanan pemantauan udara yang tersedia.

3. Hindarkan anak saat pembersihan abu

Anak sebaiknya tidak berada di area sekitar sewaktu orang tua sedang membersihkan endapan abu vulkanik. Remah abu yang menempel pada lantai, furnitur, atau barang lain berisiko terbang kembali ke udara saat dibersihkan sehingga berpotensi terhirup.

4. Manfaatkan kain basah ketika membersihkan

IDAI menyarankan orang tua memakai lap atau kain basah saat membersihkan sisa abu. Benda atau lantai yang hendak dibersihkan juga dapat dibasahi terlebih dahulu.

Teknik ini efektif menekan potensi abu beterbangan ke udara selama proses pembersihan. Sebaliknya, hindari tindakan menyapu abu dalam keadaan kering karena akan membuat partikel kembali menyebar di udara.

5. Atur pendingin ruangan pada mode sirkulasi ulang

Orang tua wajib memastikan sistem ventilasi atau sirkulasi udara rumah tidak menyedot udara luar yang berpotensi membawa abu vulkanik. Bila memakai AC, matikan fungsi yang memasukkan udara dari luar dan fungsikan mode sirkulasi ulang (recirculation) atau closed vent jika ada.

6. Hindari penggunaan kipas angin

Penggunaan kipas angin sebaiknya dihindari saat abu vulkanik sudah mengendap di dalam rumah.

Hembusan udara dari kipas angin dapat memicu partikel abu yang telah hinggap di permukaan lantai maupun perabot berhembus kembali dan berisiko terhirup oleh anak.

7. Kenakan masker bagi anak di atas usia 2 tahun

Saat anak terpaksa harus keluar rumah, IDAI merekomendasikan penggunaan masker khusus anak bagi yang berusia di atas dua tahun. Masker wajib terpasang secara presisi agar efektif membendung partikel abu masuk ke saluran pernapasan.

Orang tua juga perlu mengedukasi anak mengenai tata cara memakai masker secara tepat.

8. Lindungi area mata anak

Bukan hanya saluran pernapasan, paparan abu vulkanik juga berpotensi memicu iritasi mata. Oleh sebab itu, anak yang perlu berkegiatan di luar rumah dapat dipasangkan pelindung mata, seperti kacamata anak, untuk meminimalkan kontak langsung dengan abu.

9. Pakaikan pakaian yang tertutup

Partikel abu vulkanik tak sekadar mengancam saluran pernapasan dan mata, namun juga bisa mengenai kulit. Orang tua disarankan memakaikan pakaian yang tertutup pada anak guna meminimalkan kontak kulit langsung.

Begitu selesai beraktivitas dari luar rumah, anak hendaknya langsung membersihkan diri serta berganti pakaian.

10. Siapkan pasokan obat rutin untuk anak dengan asma atau alergi

Anak yang memiliki riwayat penyakit asma atau alergi pernapasan memerlukan perhatian lebih ketika terjadi paparan abu vulkanik. Orang tua perlu memastikan ketersediaan obat rutin serta obat darurat yang biasa dikonsumsi anak.

Paparan abu dapat mencetuskan atau memperberat gejala pada anak dengan riwayat pernapasan tertentu.

11. Jauhkan dari asap rokok dan asap dapur

Di tengah memburuknya kualitas udara akibat abu vulkanik, orang tua juga wajib menghindarkan anak dari polusi tambahan di dalam rumah. Paparan asap rokok dan dapur dapat memperparah iritasi pada saluran pernapasan yang sudah terkena abu vulkanik.

Oleh karena itu, upayakan agar kualitas udara di interior rumah tetap terjaga baik.

12. Pastikan asupan cairan anak terpenuhi

IDAI turut mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan cairan pada anak. Anak harus cukup minum demi mencegah dehidrasi, khususnya di tengah kondisi lingkungan yang kurang sehat.

Disamping konsumsi cairan, pastikan anak tetap memperoleh asupan makanan bergizi seimbang untuk menopang ketahanan tubuhnya.

13. Segera menuju rumah sakit bila tampak tanda bahaya

Orang tua harus segera membawa anak ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat apabila tampak gejala gangguan pernapasan.

Beberapa sinyal bahaya yang perlu diwaspadai meliputi frekuensi napas yang meningkat, adanya tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, atau tingkat saturasi oksigen di bawah 94 persen dari pemantauan oksimeter jari.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengingatkan orang tua untuk tidak meremehkan indikasi gangguan pernapasan yang timbul setelah anak terpapar abu vulkanik.

“Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” kata dr. Wahyuni.

Perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas selama paparan abu vulkanik berlangsung. Selain meminimalkan paparan, orang tua perlu memantau kondisi anak serta secepatnya mencari pertolongan medis jika muncul gejala yang mengarah pada gangguan pernapasan.

Terkini