PORTALENERGI.ID — Rusia memperpanjang larangan ekspor diesel untuk seluruh produsen hingga 31 Oktober, menurut laporan Vedomosti. Kebijakan ini diambil karena perawatan kilang yang tertunda dan kebutuhan membangun kembali cadangan bahan bakar sebelum musim dingin. Perpanjangan ini berpotensi menekan pasokan diesel global dan mendorong harga di pasar internasional.
Paragraf pembuka: Larangan ekspor diesel Rusia yang semula berakhir 30 September kini diperpanjang hingga 31 Oktober. Kebijakan ini diperluas sejak Juli dari yang awalnya hanya menyasar pedagang dan kilang kecil menjadi mencakup semua produsen bahan bakar.
Langkah Moskow didorong oleh tertundanya pemeliharaan kilang dan kebutuhan mengisi ulang cadangan bahan bakar menjelang musim dingin. Kementerian Energi Rusia menyatakan pembatasan saat ini "dapat disesuaikan" begitu volume pasokan stabil dan cadangan mencapai level memadai, tanpa menyebut ambang batas spesifik.
Harga Diesel di Rusia Melonjak
Di bursa komoditas St. Petersburg, diesel diperdagangkan pada 70.546 rubel per ton pada awal September. Harga eceran mencapai 88,44 rubel per liter pada 7 September, naik 18,4% sejak awal tahun.
Enam kilang diesel terbesar Rusia menyumbang sekitar setengah produksi nasional. Tiga di antaranya — Kirishi, Volgograd, dan NORSI — kini tutup atau beroperasi sekitar seperempat kapasitas akibat serangan drone Ukraina.
Kirishi sepenuhnya offline, sementara Volgograd dan NORSI berjalan mendekati 25%. Kilang Taneco terkena serangan pada Minggu. Ekspor diesel Rusia anjlok di bawah 1 juta metrik ton pada Juni, turun dari sekitar 2,5 juta ton per bulan setahun sebelumnya.
Turki dan Brasil kehilangan setidaknya separuh jatah kargo diesel mereka sebelumnya. Penurunan ekspor ini memperketat pasokan di pasar global yang sudah rentan.
Dampak ke Pasar Global dan Amerika Serikat
Presiden AS Donald Trump pada 13 September mendesak Ukraina menghentikan serangan terhadap kilang Rusia. Ia mengaitkan serangan itu langsung dengan harga BBM di Amerika Serikat.
Analis energi membantah klaim tersebut. Studi KSE Institute mencatat kerugian ekspor terkait Teluk mencapai 152 juta barel antara Maret dan Agustus, lebih dari dua kali lipat penurunan Rusia sebesar 68 juta barel.
Ekspor diesel laut Rusia hanya sekitar 4% dari perdagangan dunia. Artinya, dampak langsung ke pasar global terbatas, meski tetap memicu kekhawatiran.
Harga diesel di AS mencapai rekor 6,27 dolar per galon pada Selasa, naik sekitar 80 sen dalam sebulan. Setahun sebelumnya, harga berada di 3,69 dolar per galon.
Kenaikan ini mendorong pemimpin Partai Republik di Senat menyatakan terbuka mendiskusikan larangan ekspor diesel AS. Namun, tidak ada preseden nyata untuk langkah semacam itu.
Larangan ekspor minyak mentah AS dari 1975 hingga 2015 tidak mencakup diesel dan bensin. Ekspor produk olahan praktis tanpa pembatasan selama puluhan tahun. Anggota DPR Ro Khanna mengusulkan Gasoline Export Ban Act terpisah, sementara Gedung Putih membantah rencana kedua kebijakan itu pada Agustus.
Penutup: Perpanjangan larangan ekspor diesel Rusia menambah ketidakpastian pasokan energi global menjelang musim dingin. Bagi negara pengimpor, termasuk Indonesia, tekanan harga di pasar internasional bisa merembet ke biaya bahan bakar industri dan transportasi.