PORTALENERGI.ID — PBB resmi menggandeng Google untuk membuka akses data statistik global kepada sistem kecerdasan buatan. Platform bernama UN System Data Commons ini dibangun di atas Data Commons milik Google dan mendukung Model Context Protocol (MCP), standar yang memungkinkan agen AI terhubung langsung ke sumber data eksternal. Langkah ini diambil setelah uji UNICEF menemukan model AI terkemuka hanya mencetak skor akurasi rata-rata 21,2 persen saat menjawab pertanyaan soal indikator pembangunan global.
UN System Data Commons menggantikan portal UNData yang selama ini mengharuskan pengguna menelusuri statistik lewat antarmuka basis data konvensional. Kini, pengguna bisa mencari data dari berbagai badan PBB menggunakan kueri bahasa alami.
Platform ini juga melacak asal setiap statistik. Pengguna dapat menelusuri kembali data yang diambil sistem AI ke sumber asli PBB.
Uji UNICEF Ungkap Akurasi AI Cuma 21,2 Persen
Uji benchmark UNICEF terhadap enam model bahasa besar mencakup lebih dari 133.000 respons atas pertanyaan seputar indikator pembangunan global. Skor akurasi rata-rata yang dihasilkan hanya 21,2 persen.
Pengujian melibatkan GPT-4o dan GPT-4o-mini dari OpenAI, Claude Sonnet 4.5 dan Haiku 4.5 dari Anthropic, serta Gemini 2.5 Flash dan Gemini 2.0 Flash dari Google. João Pedro Azevedo, kepala statistik UNICEF, menyampaikan temuan ini dalam briefing virtual kepada wartawan.
Sekitar tiga dari lima respons tidak memberikan angka yang bisa digunakan sama sekali. Model sering kali menghindari jawaban pasti.
Saat pertanyaan yang sama dijalankan ulang pada versi model yang sama sekitar dua hari kemudian, model yang memberikan angka di kedua kesempatan hanya mengembalikan angka identik sekitar setengah dari total kasus.
Studi ini merupakan working paper UNICEF yang sedang disiapkan untuk submission jurnal dan belum melalui peer review. UNICEF berencana merilis metodologi, kode, dan data bersama paper tersebut.
Traffic dari Asisten AI ke Situs Data UNICEF Melonjak
Situs data UNICEF menerima lebih dari 6 juta kunjungan per bulan dan termasuk salah satu situs paling populer lembaga itu. Kunjungan dari pengguna yang mengklik tautan di jawaban ChatGPT ke situs tersebut naik 67 persen year-over-year antara 1 Januari dan 14 September.
Rujukan semacam itu menyumbang 6,4 persen dari seluruh sesi tahun ini. UNICEF memperkirakan asisten AI secara keseluruhan kini menyumbang sekitar satu dari sepuluh kunjungan.
26 Entitas PBB Berkomitmen, Target 80 Persen Dataset pada 2027
Sebanyak 26 entitas PBB telah berkomitmen pada Data Commons, dengan data dari hampir 20 entitas tersedia saat peluncuran. PBB menargetkan 80 persen dataset statistik sistem PBB masuk ke platform ini pada 2027.
"We are orders of magnitude more advanced in scale, scope, and flexibility, connecting for the first time across so many agencies across the UN system," kata Shantanu Mukherjee, acting director Divisi Statistik PBB. "And [we are] taking this moment to also make our data AI-ready."
Google.org menyediakan dana pembangunan kapasitas senilai USD 2 juta plus dukungan teknis untuk membangun infrastruktur inti platform. Prem Ramaswami, yang memimpin tim Data Commons Google, mengatakan sistem ini dihosting pada instance yang diatur PBB dan nantinya akan dikelola, dioperasikan, serta diskalakan secara mandiri oleh PBB.
"We have taken a 'train-the-trainer' approach throughout the rollout, and we have already seen the UN system team ramp up quickly," ujar Ramaswami.
Data Otoritatif Tak Otomatis Buat Kesimpulan AI Otoritatif
Google meluncurkan Data Commons pada 2018 untuk menata dataset publik dari berbagai sumber ke dalam kerangka kerja bersama. Tahun lalu, Google menambahkan dukungan MCP sehingga agen AI bisa langsung mengkueri Data Commons untuk statistik beserta sumbernya.
Dalam salah satu demonstrasi, Google meminta sistem AI mencari dampak President's Emergency Plan for AIDS Relief Amerika Serikat di Afrika. Sistem mengidentifikasi statistik PBB terkait infeksi HIV, mortalitas AIDS, dan angka harapan hidup, lalu menggunakannya untuk menghasilkan infografik.
Namun, memberi sistem AI data otoritatif tidak otomatis membuat kesimpulannya otoritatif. "Because models can misinterpret nuance, a human should always review the outputs before citing or publishing them," kata Ramaswami.